![]() |
Oleh Amelia Fitriani
Koordinator Penulisan Buku Lima Puluh Puisi Esai Edisi Enam Bahasa
JAKARTA — Sastra, pada dasarnya, selalu menemukan jalannya sendiri untuk melampaui batas. Ia tidak mengenal sekat geografis, tidak tunduk pada perbedaan bahasa, dan kerap justru tumbuh dari kegelisahan yang sama, tentang manusia, tentang luka, tentang harapan.
Dalam konteks inilah, puisi esai hadir bukan sekadar sebagai bentuk karya, melainkan sebagai ruang pertemuan: antara fakta dan rasa, antara realitas sosial dan refleksi personal.
Sebagaimana sering tercermin dalam tradisi sastra, karya yang bertahan bukan hanya yang indah secara estetika, tetapi yang mampu menangkap denyut zaman dan menerjemahkannya menjadi pengalaman yang dapat dirasakan lintas budaya. Puisi esai, dengan kekhasannya yang memadukan narasi, data, dan empati, bergerak ke arah itu.
Pengalaman saya sebagai koordinator penulisan buku Lima Puluh Puisi Esai Edisi Enam Bahasa menjadi salah satu bukti bahwa bentuk ini sedang melampaui batas-batas lokalnya. Proses ini dimulai sejak undangan dikirimkan pada 30 Desember 2025 kepada para penulis yang telah dipilih melalui rapat penyelenggaraan Festival Puisi Esai Jakarta ke-3.
Sejak awal, respons yang kami terima sangat menggembirakan. Para penulis, baik dari Indonesia maupun mancanegara, menyambut undangan ini dengan antusias, bahkan ketika sebagian dari mereka baru pertama kali mengenal dan menulis puisi esai.
Dari total 50 penulis yang terlibat, 39 berasal dari Indonesia, sementara 11 lainnya datang dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Jerman, Korea Selatan, Mesir, Australia, Tiongkok, Selandia Baru, dan Afghanistan.
Menariknya, bagi banyak penulis internasional tersebut, puisi esai merupakan bentuk yang benar-benar baru. Namun justru di situlah letak kekuatannya: mereka tetap mampu mengolahnya menjadi medium ekspresi yang relevan dengan konteks sosial masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa puisi esai tidak hanya dapat dipahami lintas budaya, tetapi juga cukup lentur untuk diadaptasi tanpa kehilangan esensinya.
Dalam kerangka yang lebih konseptual, pengalaman ini juga mengafirmasi temuan dalam tesis yang saya susun untuk menyelesaikan studi pascasarjana di Program Business and Communication Management, LSPR Institute Jakarta, yang mengkaji strategi cultural branding dalam membangun puisi esai sebagai produk budaya di industri kreatif Indonesia.
Dalam perspektif tersebut, sebuah karya tidak hanya dinilai dari aspek estetika, tetapi dari kemampuannya membangun makna kolektif dan relevansi sosial yang dapat diterima lintas audiens.
Apa yang terjadi dalam penulisan buku ini memperlihatkan bahwa puisi esai mulai bergerak ke arah tersebut. Ia tidak lagi berdiri sebagai genre yang eksklusif atau terbatas pada komunitas tertentu, melainkan berkembang sebagai produk budaya yang membawa nilai, narasi sosial, dan identitas, yang kemudian dapat beresonansi secara lebih luas, bahkan dalam konteks global.
Proses pengumpulan naskah sendiri tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Dari target awal 25 Januari 2025, seluruh naskah baru terkumpul lengkap pada 17 Februari 2026. Dalam perjalanan tersebut, terdapat dinamika yang wajar terjadi dalam kerja kolaboratif lintas negara, termasuk adanya penulis yang mengundurkan diri dan kemudian digantikan oleh penulis lain yang mampu menyelesaikan naskahnya dengan baik.
Keberagaman latar belakang para penulis juga menjadi kekuatan tersendiri. Mereka tidak hanya datang dari kalangan sastrawan, tetapi juga guru, dosen, wartawan, profesional, hingga pekerja di berbagai sektor lainnya. Setiap individu membawa perspektif dan pengalaman hidup yang berbeda, yang kemudian bertemu dalam satu ruang bernama puisi esai.
Seluruh proses ini pada akhirnya mencapai target yang diharapkan. Lima puluh naskah dari lima puluh penulis berhasil terkumpul, termasuk dari mereka yang baru pertama kali menulis dalam bentuk ini. Buku ini kemudian akan dialihbahasakan ke dalam enam bahasa, yakni Inggris, Spanyol, Rusia, Arab, Mandarin, dan Prancis, sebuah langkah yang semakin memperluas jangkauan puisi esai ke pembaca global.
Lebih jauh dari sekadar capaian teknis, pengalaman ini memperlihatkan bahwa puisi esai telah memasuki tahap kematangan sebagai medium ekspresi. Ia tidak lagi berada pada fase perkenalan, tetapi telah menunjukkan kapasitasnya sebagai jembatan antarbudaya, menghubungkan pengalaman manusia yang berbeda melalui isu-isu yang, pada dasarnya, bersifat universal, terutama terkait luma sosial. Di sinilah puisi esai menemukan relevansinya: ia berbicara dalam bahasa empati, yang dapat dipahami oleh siapa pun, di mana pun.
Karena itu, langkah menuju panggung internasional bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah proses yang sedang berlangsung. Buku ini menjadi salah satu penandanya, bahwa puisi esai telah mulai menempati ruangnya dalam percakapan sastra global.
Sebab pada akhirnya, menurut saya, sastra yang hidup adalah sastra yang menemukan manusia di dalamnya. ***

