Type Here to Get Search Results !

UNIVERSITAS ISLAM UNGGUL DI KOTA PARIAMAN: Momentum Transformasi STIT Syekh Burhanuddin menuju Kampus Peradaban

Ketua Yayasan ICSB, Prof. Duski Samad bersama Ketua STIT Syekh Burhanuddin Dr. Neni Triana dan pengurus foto bersama dengan Wako Yota Balad.

Oleh: Duski Samad

Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman

Silaturahim Idul Fitri 1447 H/2026 yang berlangsung pada Sabtu, 21 Maret 2026 menjadi momentum penting dalam membangun sinergi antara Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin, pimpinan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, dan Pemerintah Kota Pariaman di bawah kepemimpinan Walikota Yota Balad, S.STP, M.Si periode 2025–2030.

Pertemuan tersebut berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, diselingi dialog serius namun cair, bahkan sesekali diwarnai humor yang mencerminkan kedekatan emosional antara pemimpin daerah dengan tokoh pendidikan dan masyarakat. Sosok Walikota yang energik, komunikatif, dan berpengalaman dalam birokrasi—terutama saat menjabat Sekretaris Daerah—memperlihatkan komitmen kuat terhadap pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, keagamaan, serta ekonomi berbasis potensi kelautan dan pertanian.

Dalam dialog tersebut, salah satu topik utama yang dibicarakan adalah masa depan STIT Syekh Burhanuddin Pariaman yang berlokasi di Kampung Baru Kota Pariaman. Walikota menyampaikan apresiasi atas keberadaan kampus ini sebagai aset pendidikan Islam daerah, sekaligus harapan agar STIT terus berkembang menjadi perguruan tinggi Islam yang lebih besar dan unggul.

Kampus sebagai penggerak kemajuan kota

Dalam pembangunan daerah modern, perguruan tinggi bukan sekadar lembaga akademik, tetapi juga motor kemajuan sosial dan ekonomi. Kota-kota yang maju biasanya memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang kuat, karena kampus mampu:

meningkatkan kualitas SDM daerah menarik mahasiswa dari berbagai daerah, menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar, menjadi pusat inovasi dan pemikiran, memperkuat identitas kota.

Gagasan untuk mengembangkan STIT Syekh Burhanuddin menjadi universitas Islam merupakan langkah strategis yang sejalan dengan kebutuhan masa depan Kota Pariaman.

Universitas Islam tidak hanya akan meningkatkan marwah kota sebagai kota religius dan berbudaya, tetapi juga menjadi daya tarik pendidikan regional. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah akan menciptakan efek ekonomi berantai bagi masyarakat melalui sektor kos, kuliner, transportasi, percetakan, serta usaha kecil lainnya.

Dengan kata lain, membangun kampus berarti membangun masa depan kota.

Arah pengembangan akademik yang relevan

Dalam diskusi tersebut juga muncul gagasan pengembangan program studi yang memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan masyarakat dan potensi daerah, seperti:

Pertama, Hukum Keluarga Islam, yang sangat penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap ahli hukum Islam yang kompeten dalam bidang perkawinan, waris, zakat, wakaf, dan penyelesaian sengketa keluarga.

Kedua, Pariwisata Syariah, yang sangat relevan dengan potensi Pariaman sebagai daerah wisata pantai, wisata budaya, dan wisata religi. Pengembangan wisata halal membutuhkan SDM profesional yang memahami manajemen pariwisata sekaligus nilai syariah.

Ketiga, Manajemen Haji dan Umrah, yang memiliki prospek besar karena Indonesia merupakan negara dengan jamaah haji terbesar di dunia. Kebutuhan tenaga profesional dalam manajemen travel haji dan umrah akan terus meningkat.

Program-program ini menunjukkan bahwa pengembangan STIT tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan zaman.

Model pendidikan berkarakter: kembali ke tradisi surau

Salah satu gagasan penting yang juga mengemuka adalah perlunya model pendidikan berasrama atau boarding system. Model ini sebenarnya bukan hal baru dalam tradisi Minangkabau.

Dahulu, sistem surau telah menjadi model pendidikan integral yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, kepemimpinan, dan kemandirian.

Surau bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membentuk manusia.

Jika model ini diadaptasi dalam bentuk kampus berasrama, maka STIT Syekh Burhanuddin dapat memiliki keunggulan karakter dibandingkan kampus lain, yaitu melahirkan sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Inilah yang dalam bahasa pendidikan modern disebut character based higher education.

Modal sejarah: Pariaman sebagai pusat Islam Minangkabau

Tidak banyak daerah yang memiliki kekuatan historis seperti Pariaman. Dari wilayah inilah Syekh Burhanuddin Ulakan membangun jaringan pendidikan Islam melalui sistem surau yang kemudian melahirkan banyak ulama besar Minangkabau.

Nama besar Syekh Burhanuddin bukan sekadar nama tokoh sejarah, tetapi simbol peradaban Islam Minangkabau.

Jika dikelola secara visioner, identitas ini dapat menjadi kekuatan branding akademik yang sangat kuat. Kampus yang membawa nama Syekh Burhanuddin memiliki legitimasi historis untuk menjadi pusat kajian Islam Minangkabau, kajian surau, serta jaringan ulama Nusantara.

Di sinilah relevansi falsafah: Adat basandi syarak, Syarak basandi Kitabullah menjadi landasan filosofis pengembangan pendidikan.

Rencana pengembangan akademik STIT

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa pada tahun akademik 2026–2027, STIT Syekh Burhanuddin sedang menunggu izin dari Kementerian Agama RI melakukan pengembangan akademik melalui:

1.Pembukaan Program Magister Pendidikan Islam (S2)

2.Pembukaan Program Studi S1 Manajemen Haji dan Umrah

Disamping terus memberikan penguatan program pendidikan Islam 

Dan Prodi Pendidikan anak usia dini yang sudah ada sejak 1978 lalu.

Langkah ini merupakan bagian dari roadmap jangka panjang menuju pengembangan kelembagaan yang lebih besar.

Transformasi dari sekolah tinggi menjadi universitas memang membutuhkan proses, tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak universitas besar lahir dari sekolah tinggi kecil yang dikelola dengan visi besar dan konsistensi.

Sinergi sebagai kunci keberhasilan

Pengembangan STIT Syekh Burhanuddin menjadi universitas unggul tentu tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan sinergi berbagai pihak:

Yayasan sebagai penggerak visi

Pemerintah daerah sebagai fasilitator kebijakan:

Akademisi sebagai penguat mutu ilmiah

Masyarakat sebagai pendukung moral

Alumni sebagai jejaring kekuatan sosial

Jika kolaborasi ini berjalan baik, maka STIT berpotensi menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting di Sumatera Barat.

Penutup: membangun kembali tradisi keilmuan Pariaman

Pertemuan silaturahim tersebut pada akhirnya menyisakan satu kesadaran penting: bahwa membangun kampus bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun masa depan generasi.

Sejarah Pariaman pernah mencatat masa ketika surau menjadi pusat lahirnya ulama, pemimpin, dan intelektual. Kini saatnya tradisi itu dihidupkan kembali dalam bentuk perguruan tinggi Islam yang unggul, modern, namun tetap berakar pada nilai spiritual dan budaya.

Jika langkah ini dilakukan dengan kesungguhan, maka bukan mustahil STIT Syekh Burhanuddin akan tumbuh menjadi universitas Islam yang tidak hanya membanggakan Pariaman, tetapi juga berkontribusi bagi peradaban Islam Indonesia.

Karena sesungguhnya:

Jika pendidikan kuat, masyarakat akan bermartabat.

Jika ulama kuat, moral bangsa akan terjaga.

Jika kampus hidup, peradaban akan bangkit.

Pariaman memiliki sejarah itu. Kini saatnya menulis babak barunya.Wallahu a’lam.DS.22032026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.