![]() |
Elza Peldi Taher
Saya berdiri cukup lama di depan lukisan itu. Cahaya lampu galeri jatuh lembut di permukaan kanvas, memantulkan kilap tipis seperti genangan air yang belum sepenuhnya surut. Di sekitar saya, dinding-dinding gedung Padel District Ciputat berjajar rapi, bersih, mentereng. Empat lapangan padel berdiri gagah di lantai bawah, ada kafe kecil menyebarkan aroma kopi yang hangat. Segalanya tampak seperti ruang hidup kelas menengah urban yang percaya pada kebugaran, gaya, dan percakapan santai.
Namun di dinding gedung itu, ratusan lukisan Denny JA menggantung seperti arsip luka Temanya satu: Bencana Sumatra.
Rumah-rumah hancur. Kampung yang luluh lantak. Kayu-kayu bertebaran seperti tulang-belulang yang terlepas dari tubuh peradaban kecil. Air keruh menguasai ruang, bukan sekadar mengalir, melainkan mendominasi. Dalam hampir setiap kanvas, ada wajah manusia—wajah yang tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.
Lukisan-lukisan itu dibuat dengan bantuan AI. Mesin membantu menyusun cahaya, bayangan, komposisi, kedalaman air, dan ekspresi duka. Tetapi di balik piksel dan algoritma itu, ada kesedihan yang nyata. Mesin mungkin bisa belajar menggambar air mata, tetapi hanya manusia yang tahu bagaimana rasanya kehilangan rumah dalam semalam.
Saya berhenti pada satu lukisan.
Seorang ibu berdiri di tepi air keruh. Wajahnya menghadap langit yang tak jelas arahnya. Matanya terbuka lebar—bukan karena terkejut, melainkan seperti seseorang yang baru menyadari bahwa seluruh masa lalunya telah dihapus oleh arus. Ia tidak berteriak. Ia tidak memekik. Kesedihannya sunyi. Dan justru karena itulah terasa lebih dalam. Saya merasa ia sedang memandangi saya.
Tatapannya menembus kanvas, menembus bingkai, menembus dinding Padel District Ciputat yang mengilap itu. Seakan-akan ia bertanya: apakah ini sekadar bencana, atau hasil dari keserakahan yang lama kita pelihara?
Sumatra adalah negeriku.
Ketika saya menginjakkan kaki di Sumatra Barat pada Desember 2025, hati saya merintih. Dari Padang menuju Solok Selatan, mata saya menyaksikan kayu-kayu bergelimpangan seperti pasukan yang kalah perang. Batang-batang besar terbujur di tepi jalan, sebagian hanyut, sebagian patah, sebagian menjadi saksi bisu bahwa hutan telah lebih dulu tumbang sebelum air datang. Banjir memang datang dari langit. Tetapi kerusakan datang dari darat.
Kawasan lindung menyusut pelan-pelan seperti kain yang ditarik dari ujungnya. Perkebunan sawit merambat tanpa jeda. Tambang menggali perut bumi dan meninggalkan lubang yang tak selalu direklamasi. Daerah aliran sungai menyempit oleh beton dan proyek yang lebih menghitung keuntungan daripada daya dukung. Sungai kehilangan ruang untuk meluap secara wajar. Tanah kehilangan akar untuk menahan air.
Ketika hujan turun, air tidak lagi diserap—ia berlari. Dan kampung-kampunglah yang menjadi tempat terakhir ia berhenti. Kita sering menyebutnya bencana alam. Padahal alam hanya mengikuti hukum yang ia miliki sejak awal. Yang berubah adalah tangan kita.
Air dalam lukisan itu bukan sekadar air. Ia adalah akumulasi izin-izin yang dikeluarkan tanpa perhitungan ekologis yang matang. Ia adalah tanda tangan di atas dokumen yang mungkin tak pernah melihat lumpur secara langsung. Ia adalah kompromi antara pertumbuhan ekonomi dan keselamatan jangka panjang yang terlalu sering dimenangkan oleh angka-angka.
Di Sumatra, banjir bukan lagi sekadar peristiwa musiman. Ia telah menjadi pola. Dan pola selalu menandakan sistem.
Kontras itu terasa seperti tamparan yang halus namun dalam. Di satu sisi, olahraga, kopi, percakapan ringan, rencana pertandingan akhir pekan. Di sisi lain, ratusan kanvas yang memperlihatkan betapa perihnya derita rakyat Sumatra. Seolah-olah sejarah berdampingan dengan hiburan. Seolah-olah penderitaan bisa dipajang rapi tanpa benar-benar mengganggu kenyamanan.
Lukisan-lukisan itu rencananya akan dipamerkan secara resmi. Tentu menarik melihat bagaimana reaksi orang nanti setelah melihatnya. Direncanakan akan ada lomba menulis apresiasi bagi pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Akan lahir banyak kalimat indah tentang empati dan kemanusiaan. Tetapi saya berharap yang lahir bukan hanya empati estetik. Yang dibutuhkan bukan hanya apresiasi visual, melainkan kesadaran struktural.
Banjir Sumatra memang dahsyat. Derita rakyat Sumatra belum berakhir. Derita itu akan masih panjang. Ketika pemerintah menolak bantuan asing, dengan alasan kedaulatan, luka itu terasa semakin lama. Sementara dana pemerintah untuk membantu Sumatra tak terlalu besar karena lebih dipusatkan pada MBG, rakyat di tepian sungai harus menunggu.
Banyak pihak menyayangkan sikap pemerintah ini. Tetapi sebagian berpendapat itu karena Sumatra secara elektoral lebih kecil dibanding Jawa. Jika saja banjir terjadi di Jawa maka pemerintah pasti akan melakukan apa saja untuk membantu karena mayoritas penduduk berada di pulau ini. Jika tidak, itu bisa membahayakan kepemimpinan pemerintah di tahun pemilihan 2029 nanti.
Politik kadang bergerak lebih cepat daripada empati.
Namun kritik ekologis tak boleh berhenti pada pemerintah pusat saja. Pemerintah daerah, pengusaha, investor, bahkan masyarakat juga bagian dari lingkaran ini. Kita menikmati hasil kayu, sawit, tambang, beton, dan jalan baru. Kita jarang menanyakan dari mana semua itu berasal dan apa yang hilang untuk menghadirkannya. Dan lukisan-lukisan itu seperti tahu semua itu.
AI membantu melahirkan gambar-gambar ini. Mesin belajar menyusun kesedihan. Tetapi yang tidak bisa dibuat oleh algoritma adalah rasa malu. Rasa malu itu milik manusia. Dan mungkin, di antara ratusan lukisan itu, yang paling terpajang sebenarnya bukan penderitaan rakyat—melainkan cermin bagi kita yang menonton.
Saya membayangkan ibu itu sebelum banjir datang. Ia mungkin menanak nasi pagi hari. Menyapu halaman. Menjemur pakaian. Hidupnya sederhana, tetapi utuh. Kini kesederhanaan itu hanyut bersama papan-papan kayu dan lembaran seng. Air meratakan semuanya—rumah, kenangan, bahkan rasa aman.
Saya meninggalkan galeri dengan langkah pelan. Di belakang saya, ibu dalam lukisan itu tetap berdiri, memandangi langit yang keruh. Dan entah mengapa, saya merasa bukan ia yang tenggelam—melainkan kita yang perlahan hanyut oleh ketidakpekaan.
Langkah terasa berat, seolah-olah lantai Padel District yang mengilap itu berubah menjadi lumpur yang lengket. Di luar ruangan, lampu-lampu kafe bersinar hangat. Tidak ada air yang meluap di Ciputat. Tidak ada kayu yang hanyut di jalanan. Kota berjalan seperti biasa. Tetapi di dalam diri saya, sesuatu terasa basah dan belum kering.
Barangkali banjir terbesar bukanlah yang merobohkan rumah-rumah kayu di Sumatra. Banjir terbesar adalah ketika kepedulian surut, ketika hutan ditebang tanpa rasa bersalah, ketika sungai dipersempit demi proyek, ketika keputusan diambil dengan kalkulator elektoral dan bukan dengan nurani.
Sumatra adalah negeriku. Ia bukan sekadar pulau di peta. Ia adalah tanah tempat ingatan saya tumbuh. Jika hutan-hutannya hilang, jika sungai-sungainya rusak, maka yang tenggelam bukan hanya kampung-kampung kecil—tetapi juga bagian dari diri saya sendiri.
Di belakang saya, ratusan lukisan itu tetap tergantung. Air di kanvas itu tidak pernah benar-benar surut. Dan pertanyaannya masih menggantung di udara:
Sumatra menangis. Siapa yang benar-benar mendengar?
Sumatra tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya meminta kita berhenti berpura-pura tidak tahu. Karena tangis yang paling menyakitkan bukan yang keras terdengar, melainkan yang kita pilih untuk abaikan.
Pondok Cabe Udik 26 Februari 2026
Elza Peldi Taher

