![]() |
Pada kata aku bertumpu
mengkaji makna di setiap tulisan, bersumber dari benak hingga menyusuri huruf demi huruf, bersama tarian jemari, kukirim sinyal hingga menyusup ke benak rindumu, pada kata kukirim pesan bahwa di balik sakitnya raga, aku masih bertahan menulis makna dari sinyal kemelut dunia.
Tak hendak aku mengirim bara tersirat di pesan literasi, sebab bila ekstrim kiri dan ekstrim kanan melingkupi benak, imaji tentang surga atau neraka cuma mengirim benci, damai tak muncul dari hati yang ada hanya kecemburuan fatal.
Saling curiga mendekam di dasar jiwa, kata menyiratkan sikap, menukik pada hilangnya empati hingga perpecahan suku, ras, agama, tak masuk di ungkapan kasih, kebencian membalut nyalang pada tatap, hingga kata meluncur sia sia.
Pada kata aku berharap, karena hidup cuma mengusung opini, kita ada lalu tiada, sebentar saja nafas menghirup oksigen, jika semua selesai, dari debu kembali menjadi debu.
Kata bertahan di ruang pilu, ucap senyap tertulis samar, aku cinta padamu...
Fanny J. Poyk/Maret/ 2026

