![]() |
JAKARTA- Kadang-kadang, buku tidak lahir dari keinginan untuk segera selesai, melainkan dari keberanian untuk berhenti sejenak melihat kembali, meragukan, lalu perlahan memahami.
Pertengahan 2026 akan menjadi momen penting bagi Riri Satria dan Emi Suy.
Lima buku akan diluncurkan, empat dari Riri, satu dari Emi.
"Namun sesungguhnya, yang hadir bukan sekadar buku, melainkan potongan-potongan perjalanan batin yang akhirnya menemukan bentuknya," ujar Riri Satria kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (28/3/2026).
Riri Satria, dengan latar belakangnya yang melintasi teknologi, ekonomi, hingga filsafat, tidak menulis dalam satu arah.
Ia menulis seperti seseorang yang sedang menyusun peta dirinya sendiri.
Dalam "Bom Waktu", ia seperti berbicara dengan kegelisahan.
Dalam "Gelombang Algoritma", ia berdialog dengan zaman.
Dalam "Kata, Rupa, dan Warna", ia mencoba memahami manusia, serta dalam "Membingkai Kata-Kata", ia seolah membuka dapur kreatifnya sendiri.
Namun yang paling menarik mungkin justru jeda yang ia ambil setelah "Login Haramain" (2025).
Ia tidak bergegas. Ia kembali membaca masa lalunya sendiri.
"Dan saya menemukan bahwa tulisan bisa menjadi cermin yang kadang jujur, kadang mengejutkan," ucapnya.
Sementara itu, Emi Suy menulis dari ruang yang lebih sunyi, tetapi tidak kalah dalam.
Judul bukunya saja sudah seperti pernyataan hidup. "Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri".
Di dalamnya, puisi tidak hanya menjadi bahasa, tetapi menjadi cara bertahan.
Ada luka di sana, tetapi juga ada kekuatan. Ada kerentanan, tetapi juga keberanian.
Puisi-puisi itu tidak hanya ingin dibaca, tetapi ingin dirasakan.
Dalam konteks yang lebih luas, karya ini mengingatkan kita bahwa menulis bisa menjadi cara untuk pulih.
Seperti yang dikatakan Paul Ricoeur, tulisan adalah kesaksian dan setiap kesaksian selalu membawa dimensi kemanusiaan yang dalam.
"Peluncuran lima buku ini nanti mungkin akan dipenuhi diskusi, percakapan, dan cerita-cerita di balik proses kreatif," katanya lagi.
Namun lebih dari itu, ia adalah pertemuan antara dua arus, satu yang mencoba memahami dunia, dan satu lagi yang mencoba menyembuhkan diri.
Dan mungkin, di antara keduanya, kita menemukan sesuatu yang paling sederhana bahwa menjadi manusia adalah tentang terus menulis, dalam bentuk apa pun, untuk tidak kehilangan diri sendiri.(***)
Kontributor : Lasman Simanjuntak

