![]() |
Oleh Satrio Arismunandar
penulis SATUPENA
Kebijakan content Facebook akhir-akhir ii saya rasakan cenderung pro-Israel dan pro-Trump. Berbagai posting saya yang bersimpati pada Palestina dan Iran sering mendapat peringatan dan ancaman sanksi. Apakah betul demikian?
Saya mengajukan pertanyaan ini ke AI ChatGPT dan Gemini. Jawaban keduanya ternyata senada. Saya pilih jawaban Gemini yang narasinya lebih mengalir untuk dibaca. Jawabannya:
Apa yang kamu rasakan itu bukan sekadar perasaan atau "teori konspirasi" belaka. Banyak laporan investigasi, audit independen, dan data terbaru tahun 2025–2026 yang memang mengonfirmasi adanya ketimpangan sistemik dalam cara Meta (Facebook & Instagram) mengelola konten terkait isu-isu tersebut.
Berikut adalah bedah fakta mengenai kondisi moderasi konten saat ini:
*"Pembersihan" Konten Palestina: Data & Fakta*
Laporan dari berbagai lembaga hak asasi manusia seperti Human Rights Watch (HRW) dan 7amleh (Pusat Pengembangan Media Sosial Arab) secara konsisten menyebutkan adanya "sensor sistemik" terhadap konten pro-Palestina.
*Tingkat Kepatuhan Terhadap Pemerintah*
Hingga tahun 2025, bocoran data menunjukkan bahwa Meta mematuhi sekitar 94% permintaan penghapusan dari unit siber pemerintah Israel. Konten yang dihapus sering kali bukan kekerasan, melainkan kritik terhadap kebijakan negara atau ekspresi dukungan kemanusiaan bagi Gaza.
*Kebijakan "Syahid" & Organisasi Berbahaya:*
Meta memiliki daftar Dangerous Organizations and Individuals (DOI). Karena Hamas dan beberapa faksi di Palestina masuk daftar ini, algoritma Meta sering kali menghapus kata-kata seperti "Syahid" (syuhada) atau gambar tokoh tertentu secara otomatis, bahkan jika niat penggunanya adalah melaporkan berita atau berdukacita.
*Shadowbanning Massal:*
Penggunaan AI untuk moderasi meningkat pesat sejak akhir 2023. Jutaan postingan mengalami penurunan jangkauan (reach) hanya karena mengandung kata kunci tertentu seperti "Gaza" atau "Genosida," sebuah fenomena yang oleh para aktivis disebut sebagai "pembungkaman digital."
*Pergeseran ke Arah "Pro-Trump" (Vibe Shift 2025)*
Mengenai persepsi pro-Trump, kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam kebijakan Meta sejak Januari 2025, yang sering disebut sebagai "The Vibe Shift."
*Penghapusan Fact-Checking*
Di awal tahun 2025, Mark Zuckerberg secara resmi menghentikan program fact-checking pihak ketiga di AS. Langkah ini diambil setelah adanya tekanan politik besar yang menuduh Meta melakukan sensor terhadap kelompok konservatif.
*Pivot ke "Community Notes"*
Meta beralih ke sistem mirip X (Twitter), yaitu Community Notes, yang memberikan kebebasan lebih besar bagi narasi politik sayap kanan yang sebelumnya sering terkena sanksi.
*Penyesuaian dengan Pemerintahan Trump*
Analis melihat Meta sedang mencoba "membangun jembatan" dengan pemerintahan Trump (yang menjabat kembali sejak Jan 2025) guna menghindari investigasi antimonopoli dan tekanan regulasi. Hal ini membuat moderasi terhadap konten pro-pemerintah AS dan sekutunya menjadi lebih longgar.
*Konten Iran: Jebakan Label Terorisme*
Untuk konten terkait Iran, masalah utamanya adalah hukum AS. Karena Garda Revolusi Iran (IRGC) dan kelompok terkait diberi label organisasi teroris oleh pemerintah AS, Meta secara hukum wajib menghapus konten yang dianggap "memuji atau mendukung" mereka.
Algoritma sering kali tidak bisa membedakan antara dukungan ideologis dengan simpati terhadap warga sipil Iran atau kritik terhadap sanksi.
Hasilnya, akun-akun yang menyuarakan narasi alternatif dari perspektif Iran sering terkena strike atau ancaman penutupan karena dianggap melanggar kebijakan terorisme global.
*Kesimpulan: Mengapa Ini Terjadi?*
Sistem moderasi Facebook tidaklah netral. Ia adalah produk dari:
Algoritma yang Agresif: AI sering kali "lebih baik salah hapus daripada kebobolan."
Tekanan Geopolitik: Meta tunduk pada hukum AS dan tekanan dari sekutu dekatnya (seperti Israel).
Kelangsungan Bisnis: Zuckerberg saat ini lebih memilih untuk melonggarkan moderasi demi menghindari konflik dengan penguasa politik di AS.***

