![]() |
| Ali Bakri Tuanku Khalifah |
Ali Bakri Tuanku Khalifah adalah seorang tokoh ulama dan pemimpin spiritual yang dihormati di Sumatera Barat, khususnya di daerah Ulakan dan Padang Pariaman.
Latar Belakang Pendidikan Ali Bakri Tuanku Khalifah memiliki latar belakang pendidikan yang kuat dalam agama, setelah mengenyam pendidikan di beberapa pondok pesantren di Sumatera Barat, seperti di Ponpes Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan dan Dinul Ma'ruf Ujuang Gunuang. Dia juga berhasil meraih gelar S-1 di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan S-2 di Universitas Hamka Jakarta.
Kedudukan dan Peran: Dia menjabat sebagai Ketua Jemaah Syattariyah Padang Pariaman dan pengelola Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al-Anshar. Ali Bakri Tuanku Khalifah juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Kepribadian: Dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri, meskipun memiliki banyak gelar dan kedudukan. Ali Bakri Tuanku Khalifah juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan hebat dalam berbagai bidang, termasuk dalam menulis dan berbicara.
Kegiatan: Dia sering diundang untuk memberikan ceramah dan pengajian di berbagai tempat, serta aktif dalam diskusi dan silaturahmi dengan tokoh-tokoh lainnya. Ali Bakri Tuanku Khalifah juga memiliki kegemaran minum teh talue, minuman tradisional khas Sumatera Barat.
Hubungan dengan Tokoh Lain: Dia memiliki hubungan yang dekat dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Syahril Luthan Tuanku Kuniang, seorang Khalifah Syekh Burhanuddin, dan Prof. Duski Samad Tuanku Mudo, seorang akademisi dan penulis terkenal.
Tongkat Syattariyah tidak secara langsung disebutkan dalam konteks penjelasan tentang Syattariyah, tapi kita bisa memahami bahwa tongkat dalam konteks ini mungkin merujuk pada tongkat yang dibeli oleh Tuanku Khalifah, seorang pengikut tarekat Syattariyah, seperti yang disebutkan dalam postingan.
Tarekat Syattariyah sendiri adalah sebuah aliran spiritual dalam Islam yang menekankan pendekatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Syattariyah memiliki sejarah panjang dan pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Nusantara, terutama dalam penyebaran ajaran sufistik dan kosmologi Martabat Tujuh.
Dalam tarekat Syattariyah, tongkat mungkin memiliki makna simbolis atau digunakan dalam praktik spiritual tertentu, namun tanpa konteks lebih lanjut, sulit untuk menentukan signifikansi pastinya.
Syattariyah sendiri berkembang dari India pada abad ke-15 dan dikaitkan dengan tokoh sufi Abdullah Syattar. Di Indonesia, tarekat ini berkembang luas dan memiliki pengikut yang kuat, terutama di Aceh, Minangkabau dan Jawa. Mereka memiliki metode penentuan kalender yang unik, yang terkadang menyebabkan perbedaan dalam menentukan hari raya Idulfitri.

