Type Here to Get Search Results !

MuMu: Wajah Sunyi Kehidupan Disabilitas

Oleh : Ririe Aiko

Kreator Puisi Esai

‎Akhir pekan selalu menjadi waktu _me time_ singkat untuk menjeda diri, melakukan hal-hal yang saya suka. Karena ini bulan Ramadhan, pilihan aktivitas rehat terasa lebih terbatas. Akhirnya, saya memilih menonton sebuah film berjudul MuMu, sambil menunggu waktu berbuka puasa.

‎Saya tidak akan membocorkan alur ceritanya. Biarlah pengalaman emosionalnya tetap utuh bagi siapa pun yang belum menonton. Namun secara garis besar, Mumu adalah drama keluarga yang menceritakan tentang kehidupan seorang ayah tuna rungu. Ia membesarkan putrinya seorang diri setelah perceraiannya. 

Sebuah kisah yang tampak sederhana di permukaan, tentang relasi orang tua dan anak, tetapi perlahan membuka lapisan kenyataan yang jauh lebih kompleks: tentang kesunyian, keterbatasan, dan dunia yang sering kali tidak ramah bagi mereka yang berbeda.

‎Yang paling menohok bagi saya bukanlah konflik dramatisnya, melainkan kesehariannya. Cara sang tokoh utama berinteraksi dengan dunia yang tidak sepenuhnya dapat ia dengar. Cara ia mencoba menyampaikan sesuatu, tetapi orang lain gagal memahaminya. Perbedaan menjadi jurang yang sangat menyulitkan baginya. Dunia tak mudah menerima mereka yang memiliki keterbatasan, sehingga mereka dengan keterbatasan harus siap menghadapi berbagai penolakan yang menyakitkan.

‎Film ini membuat saya merasa tervalidasi karena ia memotret kenyataan yang sering kita lihat namun jarang kita akui. Bahwa hidup dengan keterbatasan fisik bukan hanya soal tubuh yang berbeda. Tantangannya yang ada jauh lebih luas: akses pekerjaan sempit, komunikasi yang terhambat, tatapan masyarakat yang kerap menciptakan jarak dan merendahkan.

‎Ada satu perasaan yang terus mengikuti saya sepanjang film: frustrasi yang tidak bisa diucapkan. Betapa banyak hal yang ingin disampaikan tokoh utama kepada dunia, tentang kemampuannya, tentang cintanya pada putrinya, tentang martabatnya sebagai manusia, namun terhalang oleh dinding tak kasat mata bernama persepsi sosial. Ia bukan tidak mampu. Tapi dunia ini terlalu sulit menerimanya untuk maju. Ia kerap kali diremehkan dan direndahkan dengan kemampuannya hanya karena keterbatasannya, sehingga ia kesulitan untuk menghidupi putrinya dan mempertahankan hak asuh putrinya. 

‎Menonton MuMu seperti bercermin pada realitas yang sering terpinggirkan. Orang dengan disabilitas tidak hanya harus beradaptasi dengan kondisi fisiknya sendiri, tetapi juga dengan lingkungan yang kerap tidak memberi ruang setara. Mereka sering dipandang “berbeda” dalam arti yang merendahkan, bukan dalam arti keberagaman manusia yang semestinya diterima.

‎Lebih menyakitkan lagi, diskriminasi itu tidak selalu datang dalam bentuk kasar. Kadang ia hadir sebagai penolakan kerja yang halus, kesempatan yang tak pernah ditawarkan, atau sekadar ekspresi ragu terhadap kemampuan mereka. Padahal, mereka tidak pernah meminta dilahirkan dengan kondisi tertentu. Seperti siapa pun, mereka hanya ingin hidup, bekerja, mencintai, dan dihargai.

‎Di tengah film, saya sempat menyadari sesuatu: betapa mudahnya kita menganggap dunia ini normal hanya karena kita berada di sisi mayoritas. Kita jarang menyadari bahwa bagi sebagian orang, setiap hari adalah negosiasi panjang dengan sistem yang tidak dirancang untuk mereka. Tangga tanpa jalur landai. Informasi tanpa bahasa isyarat. Proses kerja tanpa fleksibilitas. Dan yang paling berat: sikap manusia yang belum sepenuhnya menerima mereka dengan kondisi yang berbeda.

‎Saat lampu bioskop menyala kembali, saya duduk beberapa detik lebih lama. Ada rasa sesak yang tertinggal, bukan hanya karena kisahnya, tetapi karena kesadaran bahwa kenyataan di luar layar tidak jauh berbeda. Dunia nyata masih sering memperlakukan manusia dengan keterbatasan sebagai warga kelas dua.

‎Film ini tidak menawarkan solusi besar. Ia hanya menghadirkan kehidupan sebagaimana adanya: sunyi, berat, tetapi penuh cinta. Dan justru di situlah kekuatannya. Ia mengingatkan bahwa di balik label “disabilitas” ada manusia utuh, dengan mimpi, harga diri, dan hak yang sama untuk diterima.

‎Saya pulang dari bioskop dengan perasaan yang sedih, tetapi saya merasa melihat sebuah kenyataan yang lebih jernih. Sebuah realitas nyata yang juga sering saya rasakan. 

‎MuMu bukan sekadar film yang menguras air mata. Ia adalah pengingat bahwa empati bukan hanya perasaan, melainkan cara memandang manusia lain setara, apa pun kondisi yang mereka bawa sejak lahir. Dan mungkin, perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil: bahwa dunia seharusnya tidak hanya milik mereka yang “normal,” tetapi milik semua manusia yang ditakdirkan lahir ke dunia, apapun kondisinya

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.