![]() |
ilustrasi usa kismada
MUTIARA HATI
-----------------------------
anto narasoma
TERKADANG orang yang berada di luar agama Islam memandang keberadaan Allah SWT itu suatu bentuk dan eksisteni yang nisbi dan cenderung tidak ada.
Padahal, eksistensi pencipta langit dan bumi itu dapat dilihat dari berbagai perspektif. Yakni, suatu pendekatan melalui konsep _Necessary Being_ yang berarti Wajib al-Wujud.
Sebab, Allah SWT itu suatu entitas yang tidak bergantung dalam persepsi apa pun, namun segala sesuatu itu bergantung kepada-Nya.
Dari realitas yang dihadapi dalam dunia nyata, sebagai makhluk dhoif yang melingkari segala bentuk kelemahan, secara kasat mata, kita tidak mampu melihat nyata atas keberadaan-Nya.
Mengapa demikian? Karena unsur diri dan kehidupan manusia itu berada pada ribuan persentase di bawah bentuk dan fakta keberadaan-Nya.
Karena itu kita tidak mampu untuk melihat dan menatap keberadaan-Nya --setelah kita diciptakan Allah SWT dari debu hitam yang melingkari kehinaan manusia.
Dalam filsafat Islam, konsep ini dikembangkan oleh para filsuf seperti Ibn Sina dan Ibn Rusad. Kedua tokoh itu berargumen bahwa keberadaan Allah SWT dapat dibuktikan melalui logika dan akal sehat.
Mereka menyatakan bahwa Allah SWT itu merupakan bentuk *Penyebab Pertama* (_first cause_) yang tidak memiliki penyebab.
Keberadaan-Nya adalah suatu syarat bagi keberadaan segala sesuatu yang lain. Dalam tasawuf, Allah SWT itu dipandang sebagai *Al-Haqq* (Kebenaran) yang merupakan sumber dari segala sumber. Mereka berusaha untuk memahami dan merasakan keberadaan Allah SWT melalui pengalaman spiritual, seperti zikir, meditasi, dan kontemplasi kehidupan.
Dalam dunia tasawuf, kita diajak untuk menekankan pikiran dan jiwa tentang cara memahami eksistensi Allah SWT melalui pentingnya _ma'rifatullah_ , atau pengetahuan tentang Allah SWT melalui pengalaman spiritual serta intuisi jiwa kemanusiaan kita.
Dengan cara itu, pada akhirnya kita dapat memahami bahwa Allah SWT tak sekadar konsep, tapi bentuk dan corak-Nya suatu realitas yang nyata dan dapat dirasakan.
Dalam pemahaman tasawuf, ada konsep _fana_ atau peniadaan diri dan _baqa_ (keabadian). Berarti seseorang harus melepaskan diri dari ego sentris dan keinginan duniawi untuk mencapai konsep kesatuan dengan Allah SWT.
Tentu saja, konsep pembelajaran ini sebagai suatu yang sangat dekat dan sangat personal antara manusia dan Allah SWT.
Terkait masalah itu, Allah SWT memang selalu menunjukkan kebijaksanaan-Nya melalui firman-firman-Nya. Dengan kata lain, yang tak hanya mengandung makna spiritual, tapi juga secara filosofis yang ilmiah.
Setiap ayat di dalam Al-Quran dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara, dan satu di antaranya adalah melalui pendekatan filosofis.
Kita dapat memahami bahwa Al-Quran itu tak hanya sebagai kitab suci saja, tapi juga sebagai sumber kebijaksanaan dan pengetahuan yang dapat membantu memahami alam semesta dan kehidupan yang lebih baik.
Firman Allah SWT yang berbunyi," Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silaturahim antara malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakak (QS Al-Imran : 190).
Ini menunjukkan kepada kita semua bahwa Allah SWT itu mengajak kita untuk berpikir dan merenungi tentang ciptaan-Nya, sehingga kita dapat memahami kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. (*)
Palembang, 23 Februari 2026

