![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Fiksi dalam budaya Islam bukanlah sekadar hiburan sampingan, melainkan mode kreativitas yang sentral, cara untuk mengeksplorasi ambiguitas, untuk menjembatani antara realitas dan imajinasi, dan untuk menumbuhkan toleransi terhadap kompleksitas.” — Thomas Bauer(65), Die Kultur der Ambiguität. Eine andere Geschichte des Islams(2011; Inggris 2021).
Islam sebagai agama memiliki fondasi yang kokoh dalam teks wahyu, Al-Qur’an, dan Hadis.
Nilai-nilai fundamental seperti tauhid—percaya kepada satu Tuhan—dan pengakuan atas kenabian Muhammad sebagai pembawa risalah keesaan Allah, menjadi inti dari sistem keyakinan yang bersifat normatif.
Namun, di luar ranah teologis, Islam juga telah menjadi sumber inspirasi bagi karya sastra fiksi.
Penulis-penulis tertentu mencoba menafsirkan atau mengimajinasikan kembali sejarah Islam dalam bentuk novel, yang sering kali menimbulkan kontroversi sekaligus membuka ruang refleksi tentang batas antara fakta sejarah dan kebebasan kreatif.
Salah satu karya yang paling menghebohkan adalah The Satanic Verses(1989) karya Salman Rushdie.
Novel ini, khususnya dalam bab yang menampilkan tokoh Mahound dan Ayesha, dianggap menghina Islam karena menyentuh isu sensitif tentang kisah “ayat-ayat gharaniq” atau “ayat-ayat setan.”
“Mahound, begitulah mereka memanggilnya. Nabi atau penipu, tergantung siapa yang Anda dengarkan.”
Rushdie menggunakan nama “Mahound” — istilah abad pertengahan Barat yang merendahkan Nabi Muhammad; bahkan kata lain dari anjing menurut Leopold Weiss dalam Road to Mecca — untuk menyoroti ambiguitas antara iman dan keraguan.
Bagian ini memunculkan kontroversi karena menyentuh kisah “ayat gharaniq”(satanic verses), di mana Mahound digambarkan menerima wahyu lalu meralatnya.
Selanjutnya, “Ayesha berjalan tanpa alas kaki, rambutnya terurai, matanya berbinar penuh keyakinan.”
Tokoh Ayesha dalam novel, meski bukanlah Aisyah binti Abu Bakar, melainkan karakter fiksi yang mengaku mendapat visi dari malaikat Gibreel.
Ia meyakinkan penduduk desa untuk melakukan ziarah dengan keyakinan bahwa laut akan terbelah.
Hal ini menggambarkan fanatisme dan keyakinan mutlak yang berujung pada tragedi.
Dalam tradisi sejarah Islam, kisah ini merujuk pada perdebatan apakah Nabi Muhammad pernah secara keliru mengucapkan ayat yang mengandung kompromi terhadap politeisme, sebelum kemudian dikoreksi oleh wahyu.
Banyak ulama menolak kebenaran historis kisah tersebut, menganggapnya sebagai rekayasa.
Karen Armstrong(81) dalam Muhammad: A Biography of the Prophet menegaskan bahwa kisah gharaniq lebih mencerminkan pergulatan komunitas awal Islam dengan tekanan sosial dan politik, ketimbang fakta biografis yang sahih.
Armstrong melihatnya sebagai cerminan bagaimana tradisi sejarah sering kali berlapis tafsir, bukan catatan literal.
Dengan demikian, perbandingan antara Rushdie dan Armstrong menunjukkan jurang antara penggunaan motif sejarah sebagai bahan fiksi provokatif dan pendekatan akademis yang berusaha memahami konteks.
Sementara, Ziauddin Sardar(74), dalam Desperately Seeking Paradise: Journeys of a Sceptical Muslim(2004/2005), menilai berikut:
Kritik utama Sardar bahwa novel Rushdie sebagai bagian dari tradisi orientalis yang menempatkan Islam dalam bingkai eksotis, penuh konflik, dan tidak autentik.
Sardar, kritikus budaya dan dikenal luas sebagai pakar futures studies,menilai Rushdie menggunakan simbol-simbol Islam secara satir tanpa memahami makna sakralnya.
Dampak sosial karya fiksi Rushdie, menurutnya, kontroversi yang muncul bukan hanya karena isi novel, tetapi juga karena konteks politik global saat itu.
Novel ini dianggap memperburuk hubungan antara Barat dan dunia Muslim, karena menyinggung aspek yang sangat sensitif seperti kenabian dan wahyu.
Secara pribadi Sardar tidak sekadar mengecam, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat bagaimana novel itu menjadi cermin dari kegagalan Barat memahami Islam.
Ia menekankan bahwa umat Islam perlu merespons dengan intelektualitas, bukan sekadar kemarahan.
Berbeda dengan Rushdie, Kamran Pasha melalui novel Mother of the Believers(2009) menghadirkan kisah fiksi sejarah tentang Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi Muhammad sekaligus putri khalifah pertama.
Novel ini mencoba menarasikan kehidupan Aisyah dari sudut pandang pribadi, menekankan perannya sebagai saksi sejarah dalam masa-masa awal Islam.
Walaupun berbentuk fiksi, Pasha berusaha menautkan imajinasi dengan fakta-fakta sejarah yang dikenal, seperti peran Aisyah dalam Perang Jamal atau kedekatannya dengan Nabi.
Karya ini lebih diterima sebagai “historical fiction” karena tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan memberi ruang imajinatif bagi pembaca modern untuk memahami kompleksitas tokoh perempuan dalam sejarah Islam.
Demikian pula, Pashs dalam Shadow of the Swords(2010). Novel fiksi sejarah berlatar Perang Salib.
Mengisahkan konflik antara Richard the Lionheart (Raja Inggris) dan Salahuddin al‑Ayyubi(pemimpin Muslim).
Fiksi sejarah ini fokus pada benturan budaya, politik, dan agama antara dunia Kristen Eropa dan dunia Islam abad pertengahan.
Akan tetapi untuk kedua karya ini, Ayat-Ayat Setan dan The Mother of All Believers(Terjemahan: Humaira) — meski berbeda dalam penerimaan publik — sama-sama menimbulkan pertanyaan kritis: sejauh mana fiksi boleh mengolah sumber sejarah agama?
Pertanyaan ini juga dibahas dalam kerangka teoretis(Kultur Ambiguitas) oleh Thomas Bauer, aktif sebagai profesor kajian Islam di Universitas Münster, Jerman, yang menyoroti bagaimana Islam sering dipahami melalui lapisan interpretasi yang ambigu, membuka ruang bagi berbagai narasi.
Lain pula, Erik Schilling(49), profesor sastra Jerman modern di Universitas Leipzig, menegaskan dalam Theorizing Literature: Literary Theory in Contemporary Novels – and Their Analysis(2024) bahwa fiksi tidak hanya mengutip teori, tetapi dapat menciptakan teori baru.
Artinya, karya fiksi yang bersumber dari sejarah Islam tidak sekadar mengulang fakta, melainkan bisa menjadi refleksi kreatif yang menantang pembaca untuk berpikir ulang tentang hubungan antara teks, sejarah, dan imajinasi.
Dengan demikian, “Islam fiksi” bukanlah upaya menggantikan kebenaran wahyu, melainkan sebuah ruang sastra di mana sejarah Islam dijadikan bahan imajinasi.
Dari kontroversi Rushdie hingga narasi Pasha, dari refleksi Armstrong hingga teori Schilling maupun Bauer, kita melihat bahwa fiksi dapat menjadi arena dialektika antara fakta dan tafsir, antara iman dan imajinasi.
Ia menegaskan bahwa sastra, bahkan ketika bersumber dari sejarah agama, tetap memiliki hak untuk mencipta, sekaligus tanggung jawab untuk tidak mengaburkan batas antara penghormatan dan provokasi.
#coversongs:
Lagu “Maret 1989” dirilis oleh grup rock legendaris Indonesia, God Bless, dalam album Raksasa yang keluar pada 30 Desember 1989.
Lagu ini sarat makna sosial-politik, menyinggung peristiwa kontroversial seputar penerbitan novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie yang saat itu memicu gejolak dunia Islam.
#credit foto diambil dari Youtube yang membahas kedua novel tersebut berikut:
1. Satanic Verses(https://youtu.be/f1Wm6t5rQpE?si=c4IPQpRvGhYyvJyv)
2. The Mother of All Believer(https://youtu.be/IWRcX4Mkm0Y?si=zgLYPIvQOHaiekXG)

