Type Here to Get Search Results !

Menakar Ulang Bahasa dan Mitos Lirik Lagu-lagu LCLR

oleh ReO Fiksiwan

“Musik, secara unik di antara seni lainnya, bersifat abstrak sekaligus sangat emosional. Musik tidak memiliki kekuatan untuk mewakili sesuatu yang spesifik atau eksternal, tetapi memiliki kekuatan unik untuk mengekspresikan keadaan atau perasaan batin.” — Oliver Sach(1933-2015), Musicophilia: Tales of Music and the Brain(2007).

Lirik lagu adalah bahasa yang bertransformasi menjadi mitos, sebagaimana dikemukakan Ernst Cassirer dalam Language and Myth(1953; Terjemahan 2025). 

Bahasa dalam lirik lagu tidak sekadar alat komunikasi yang musikal, melainkan simbol yang mengandung daya mitologis.

Setidaknya, ia juga merangkum pengalaman kolektif, harapan, dan imajinasi manusia dalam bentuk yang dapat didendangkan. 

Sejak hadirnya Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors Rasisonia pada 1977, bahasa dalam lirik lagu dan melodi pop Indonesia mengalami pergeseran yang signifikan. 

LCLR yang dibesut Radio Prambors Rasisonia yang bermarkas di Jl. Prambanan Borobudur, Menteng Jakarta Pusat, menjadi ruang kreatif di mana bahasa dan melodi bertemu.

Juga, ikut membentuk mitos baru tentang generasi muda, kreativitas, dan identitas musik Indonesia pada kurun itu.

Ambil misal, lagu Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah(70) — meski yang unggul lagu Kemelut(Junaedi Salat) — justru melejit dari vokal khas mendiang Chrisye — adalah contoh awal bagaimana bahasa lirik lagu sekaligus melodinya menjadi mitos tentang kesepian dan harapan. 

Liriknya: „Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan, hitam kini, hitam nanti…" telah meresap ke dalam memori neuro-linguistik kaum muda ketika itu hingga hari ini.

Lagu ini tidak hanya populer karena melodinya yang sederhana namun menyentuh, melainkan karena liriknya yang menyalakan simbol universal: cahaya kecil yang bertahan dalam kegelapan. 

Mengacu pada Cassirer dikatakan bahwa mitos lahir dari simbol yang mengikat manusia pada pengalaman eksistensial, dan Lilin-Lilin Kecil menjadi mitos generasi kurun itu yang mencari terang di tengah perubahan sosial dekade 70-an. 

Begitu pula, lagu Kidung — lebih populer timbang lagu unggulan pertama LCLR 1978, Khayal(Tommy S.) — dari Chris M. Manusama(73), kini aktif pendeta dan gembala sidang GBI ROCK Church di Ambon, yang menghadirkan bahasa lirik sebagai doa musikal, mengikat pengalaman religius dan spiritual ke dalam ruang pop. 

Lagu ini memperlihatkan bagaimana bahasa dalam lirik lagu serta melodi dapat menjadi mitos yang menyeberangi batas antara musik populer dan tradisi sakral liturgi.

Fenomena ini semakin kompleks ketika vokal Ahmad Albar(79) melantunkan lagu Jelaga(J.A.S ‚79), unggulan kedua pada LCLR 1979. 

Petikan lirik awal:

„Insan denah resah renyah/menempik teduh terang/meminta itu merdeka…“

Liriknya yang gelap dan melodi yang dramatis menciptakan mitos tentang kehancuran dan kebangkitan. 

Di titik ini, bahasa lirik lagu tidak lagi narasi personal, melainkan simbol kolektif tentang pergulatan sosial dan eksistensi. 

Lain lagi, lagu Kharisma Indonesia(Budiman/IG Ngurah Gde) sebagai unggulan keenam LCLR 1979, menambahkan dimensi lain dengan melodinya yang memasukkan unsur pentatonik, sebuah eksperimen musikal yang dipengaruhi album Guruh Gipsy(1975). 

Melodi pentatonik — masuk melalui lagu Indonesia Mahardhika dan Asmardhana karya Guruh Soekarno Putra(73) — menghadirkan mitos musikal tentang akar budaya Nusantara(Bali) yang diolah dalam bingkai pop modern. 

Neurolog Oliver Sacks dalam Musicophilia: Tales of Music and the Brain menekankan bahwa melodi bekerja langsung pada otak, membentuk resonansi emosional yang melampaui kata-kata. 

Dengan kata lain, Kharisma Indonesia bukan hanya lagu, melainkan mitos musikal tentang kebangsaan yang diinternalisasi melalui sistem saraf pendengarnya. 

Liriknya:

„Bersama kita melagukan irama

Puji kharisma alam Indonesia

Bangsa yang ramah marilah semua bersatu berpadu

Padang hijau permadani negriku

Unggas terbang bebas nian berlagu

Membuat kharisma dunia bagai simfoni alami…“

Jika dirujuk pada Susane Langer, seni pada umumnya merupakan ekspresi simbolik „living form.“

Demikian hal, Mahajana(Orang besar), salah satu karya Bagus A. Arianto(1957-2020), unggulan keempat di LCLR 1979 dan Maheswara, lagu unggulan utama LCLR 1980, memperlihatkan tren baru dalam bahasa lirik: metafora yang lebih kompleks, melodi yang lebih berani, dan struktur yang lebih eksperimental. 

Petikan liriknya: 

„Juwita, abadilah Mahajana

Meniti celah adiwarna

Telaga anggun menyibak rasa

Melawan api asmara

Hasrat celus adikara….“

Lagu ini menjadi mitos tentang kebebasan kreatif dan menandai pergeseran dari pop sentimental menuju pop kreatif yang lebih reflektif dengan ditopang oleh penciptaan lirik-lirik tak biasa serta pilihan kata-kata Sanskerta yang tak ada dalam kamus bahasa Indonesia sehari-hari. 

Hingga dekade 1990, LCLR terus melahirkan lirik dan melodi yang membentuk mitos generasi muda Indonesia, di mana bahasa menjadi simbol pengalaman kolektif dan melodi menjadi medium neurologis yang mengikat emosi bersama.

Dalam perspektif Cassirer, bahasa lirik adalah mitos yang hidup, karena ia tidak hanya menyampaikan pesan tetapi membentuk realitas simbolik. 

Sementara perspektif Sacks, melodi adalah fenomena neurologis yang menyalakan memori, emosi, dan identitas. 

Dengan demikian, lirik dan melodi lagu-lagu LCLR adalah pertemuan antara bahasa sebagai mitos dan melodi sebagai pengalaman otak(neurologis). 

Hampir seluruh lirik dari lagu-lagu terpilih LCLR menancap dan mudah dikenang bahkan dilantunkan oleh generasi manapun. 

Keduanya membentuk sejarah musik pop Indonesia sebagai sejarah simbolik, di mana manusia tidak hanya mendengar lagu, tetapi hidup di dalam mitos yang diciptakan oleh bahasa dan melodi lagu-lagu tersebut.

#coverlagu:

Lagu Mahajana ciptaan Bagoes A.A. dinyanyikan oleh Yuni Shara(53). Lagu ini pertama kali dirilis pada 1 Januari 2002 dalam album Isi Hati. 

Namun, aslinya, lagu Mahajana direkam dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja(LCLR) 1979 dan dilantunkan Loise Hutahuruk(70).

Lirik lagu Mahajana berkisar pada perjalanan batin, refleksi diri, dan pencarian kedamaian hati.

#credit foto diambil dari cover album LCLR 1977-1980 di Youtube.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.