![]() |
TANAH DATAR - Sigi24.com : Dosen dan mahasiswa dari Program Studi Teknik Elektro Universitas Andalas menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan sektor pertanian lokal.
Mereka memperkenalkan solusi teknologi berbasis energi terbarukan di Nagari Guguak Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Proyek ini bertujuan untuk mengoptimalkan luaran listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) lokal untuk mendukung alat pertanian modern.
Inovasi Pertanian Berbasis Energi Terbarukan
Mengambil tema "Optimasi Luaran Listrik PLTMH dalam Peningkatan Sektor Pertanian Melalui Pengembangan Traktor Listrik, Alat Penggiling Biji Kopi, dan Charging Station Terkoneksi IoT," tim ini berupaya memadukan energi terbarukan dengan teknologi Internet of Things (IoT). Inisiatif ini fokus pada pengembangan traktor listrik, alat penggiling biji kopi, dan charging station yang terhubung secara digital.
"Kami merancang traktor listrik ini agar mudah digunakan dan hemat energi. Dengan memanfaatkan energi dari PLTMH, alat ini mampu bekerja optimal tanpa memerlukan bahan bakar tambahan," ujar Zaini, Ph.D., Dosen Pembimbing Lapangan.
Solusi untuk Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas
Dua alat pertanian utama yang dikembangkan adalah traktor listrik sebagai pengganti mesin berbahan bakar fosil dan alat penggiling biji kopi. Keduanya dirancang untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efisiensi kerja para petani.
Selain itu, charging station yang terhubung IoT memungkinkan pengisian daya yang efisien dan pemantauan energi secara real-time. Seorang mahasiswa, Mu'minatul Afifah Nusatama, menjelaskan, "Melalui teknologi IoT, kami dapat memantau penggunaan energi secara langsung dan mengoptimalkan distribusinya."
Proyek Program Kemitraan Masyarakat-Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PKM-PBM) ini berlangsung dari 28 Juli hingga 12 Desember 2024. Kolaborasi antara enam mahasiswa—Mu'minatul Afifah Nusatama, Nurul Izzati, M. Yazid, Muhammad Afif Arib, Syarif Ali, dan Zhafir Ibnu Tanjung dengan masyarakat setempat diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam menerapkan solusi berkelanjutan untuk sektor pertanian. (Ali Akbar).

