![]() |
Oleh: Ririe Aiko
(Pada 15 September 2025, Majelis Umum PBB mengesahkan Deklarasi New York yang menegaskan solusi dua negara sebagai jalan damai antara Israel dan Palestina. Resolusi ini didukung oleh 142 negara, meski ditolak oleh Israel dan Amerika Serikat.) (1)
---000---
Di tanah yang penuh luka,
anak-anak masih belajar menyebut kata merdeka
dengan bibir bergetar,
meski reruntuhan sekolah
menjadi halaman terakhir buku mereka.
Mereka tahu, kebebasan belum tiba,
meski dunia mulai menyebut nama Palestina
di ruang-ruang diplomasi.(2)
---000---
Gelombang pengakuan itu datang,
Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis—
lima suara baru yang menambah daftar panjang
lebih dari seratus empat puluh tujuh negara
yang mengulurkan pengakuan.
Namun, tinta di atas kertas
tak mampu menghentikan artileri.
Diplomasi berjalan di atas meja,
tetapi rakyat berjalan di atas puing dan darah.
Berapa banyak mayat yang tak sempat dikuburkan dengan layak?
Berapa banyak tubuh kecil yang diselubungi kain putih tanpa sempat mengenal dunia?
Setiap dentuman roket menuliskan angka baru,
angka yang tak tercatat dalam resolusi,
angka yang lebih nyata dari tanda tangan para diplomat.
Dunia sibuk menghitung suara di ruang sidang,
sementara tanah Palestina
Menjadi kuburan massal genosida.
Disetiap liang yang digali
Lahir yatim setiap hari. (3)
---000---
Majelis Umum PBB menorehkan sejarah,
142 negara berdiri,
menandatangani Deklarasi New York
sebagai jalan menuju dua negara.
Namun resolusi itu ditolak
oleh Israel dan sekutunya, Amerika Serikat.
Di bumi Palestina,
tinta resolusi tak pernah sepekat
darah yang tumpah di jalan-jalan Gaza.
---000---
Israel tetap menolak,
menegaskan Palestina tak boleh hadir
di barat Sungai Yordan. (4)
Amerika tetap menutup telinga,
seakan pekikan dari reruntuhan
hanyalah gema yang pantas dibungkam.
Di sisi lain, rakyat Palestina pincang melangkah—
Hamas dilemahkan,
Fatah kehilangan wibawa di meja diplomasi.
Sementara tubuh-tubuh kecil
terjepit di antara puing,
menjadi bukti siapa sesungguhnya
yang paling kehilangan negeri.
Generasi baru lahir tanpa tanah,
tanpa ayah, tanpa ibu,
dengan warisan berupa nisan
dan kartu identitas pengungsi.
---000---
Di pasar Gaza,
harga hidup lebih mahal dari sepotong roti.
Di rumah sakit,
bocah-bocah berselimut debu
berjuang merebut napas terakhir.
Setiap batu menjadi saksi,
setiap aspal menyimpan darah,
dan setiap langkah
adalah taruhan hidup.
---000---
Jalan menuju merdeka ini begitu panjang dan berliku.
Setiap pengakuan
adalah suluh kecil di tengah malam.
Setiap dukungan
adalah pijakan di atas sungai darah.
Namun sejarah selalu menulis ulang,
bahwa darah yang tumpah
tak selamanya sia-sia.
Ia bisa menjadi tinta perlawanan,
merekam jejak bangsa
yang menolak dilenyapkan.
Di balik reruntuhan rumah
dan anak-anak yang bermalam tanpa atap,
ada nyala api yang diwariskan.
Mengorbankan nyawa para syuhada.
Dengan sebuah keyakinan dan doa,
Mereka berdiri dengan penuh keteguhan,
di ujung jalan berdarah ini,
akan lahir generasi
yang menyanyikan lagu merdeka
tanpa takut peluru menghentikan nadanya.
---000---
CATATAN
(1)https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250914091508-134-1273469/ini-isi-resolusi-pbb-akui-palestina-merdeka-yang-didukung-142-negara?utm_source=chatgpt.com
(2)Inggris hingga Australia Mengakui Negara Palestina – MSN News (2025).
(3)https://www.aljazeera.com/news/2025/4/3/gaza-faces-largest-orphan-crisis-in-modern-history-report-says?utm_source
(4)Palestina Masih di Bawah Blokade dan Pendudukan Israel – MSN News (2025).

