![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Ketika saling ketergantungan ini terputus—seperti yang terjadi sekarang—kondisi untuk ‘gangguan metabolisme’ akibat perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekologis lainnya pun muncul.“ — Vandana Shiva(73), The Nature of Nature: The Metabolic Disorder of Climate Change(2024).
Merefleksikan pasca-demo 28–30 Agustus hingga awal September 2025, negara tampak seperti tubuh yang kehilangan kendali atas sistem metaboliknya sendiri.
Gejolak sosial yang membuncah di jalan-jalan bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan, melainkan gejala dari kerusakan mendalam dalam sistem pengelolaan kehidupan bersama.
Seperti yang diuraikan oleh Vandana Shiva dalam The Nature of Nature: The Metabolic Disorder of Climate Change(Terjemahan Kodrat Alam: Gangguan Metabolik Perubahan Iklim,2025), metabolisme bukan hanya proses biologis, tetapi juga metafora untuk hubungan timbal balik antara sistem kehidupan dan lingkungan yang menopangnya.
Ketika metabolisme terganggu, tubuh tidak lagi mampu menyerap, mengolah, dan mendistribusikan energi secara sehat.
Begitu pula negara: ketika sistem politik, ekonomi, dan ekologinya tidak lagi selaras, maka yang muncul adalah stagnasi, resistensi, dan akhirnya, ledakan.
Demo besar yang melibatkan ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat di 34 provinsi, makin menunjukkan bahwa ada akumulasi racun dalam sistem negara—racun yang berasal dari ketimpangan, ketidakadilan, dan alienasi.
Negara yang seharusnya menjadi ruang metabolik bagi warganya, tempat energi sosial diolah menjadi kebijakan yang menyehatkan, justru menjadi mesin yang mengkonsumsi harapan dan memproduksi ketakutan.
Dengan ini, melalui perspektif Vandana Shiva, sainstis, aktivis lingkungan, ekofeminis dan penganjur kedaulatan pangan, negara modern telah terjebak dalam logika “mekanofilia”—kecintaan berlebihan pada teknologi dan sistem industri yang mengabaikan ritme alam dan kebutuhan dasar manusia.
Negara menjadi entitas yang memaksakan efisiensi tanpa empati, pertumbuhan tanpa keberlanjutan, dan kontrol tanpa kepercayaan.
Gangguan metabolisme negara juga tampak dalam cara ia merespons krisis.
Alih-alih melakukan detoksifikasi sistemik, negara sering memilih pendekatan represif: menekan gejala daripada menyembuhkan akar. Ini mirip dengan tubuh yang menolak sinyal sakit dan terus memaksakan aktivitas, hingga akhirnya kolaps.
Vandana Shiva mengingatkan bahwa solusi tidak terletak pada teknologi tinggi atau algoritma kebijakan, melainkan pada pemulihan hubungan organik antara manusia dan alam, antara warga dan negara.
Negara harus belajar dari ekosistem: bahwa keberagaman adalah kekuatan, bahwa regenerasi lebih penting daripada eksploitasi, dan bahwa keseimbangan lebih berharga daripada dominasi.
Demo Agustus hingga awal September 2025, bukan sekadar peristiwa politik, tetapi momen metabolik: tubuh sosial sedang berusaha mengeluarkan racun, mencari oksigen, dan menuntut nutrisi yang sehat berupa keadilan, transparansi, dan partisipasi.
Jika negara gagal membaca sinyal ini, maka gangguan metabolisme akan berkembang menjadi penyakit kronis yang menggerogoti legitimasi dan daya hidupnya.
Namun jika negara mampu melakukan refleksi, mengubah pola konsumsi kekuasaan, dan membuka diri terhadap regenerasi sosial, maka ia bisa kembali menjadi tubuh yang sehat—tempat energi rakyat diolah menjadi kebijakan yang menyuburkan kehidupan bersama.
Dalam dunia yang semakin panas dan penuh ketidakpastian, seperti yang Shiva tegaskan, hanya negara yang mampu berfungsi sebagai ekosistem hidup yang akan bertahan.
Dalam tubuh negara, pemimpin adalah pusat metabolisme: ia menentukan arah aliran energi, mengatur distribusi sumber daya, dan menetapkan ritme kehidupan politik.
Ketika pemimpin kehilangan orientasi etis dan relasi organik dengan rakyatnya, maka metabolisme negara pun terganggu.
Dalam drama Caligula karya Albert Camus, kita menemukan gambaran ekstrem tentang bagaimana seorang pemimpin yang terjebak dalam absurditas eksistensial dapat merusak seluruh sistem kehidupan yang ia pimpin.
Caligula, setelah menyadari absurditas hidup dan kematian, memutuskan untuk menjalankan kekuasaan tanpa batas dan tanpa alasan.
Ia menjadi dewa atas penderitaan rakyatnya, menciptakan kelaparan, eksekusi, dan kekacauan hanya untuk membuktikan bahwa dunia tidak memiliki makna.
Dalam tafsir ini, Camus tidak sekadar menggambarkan tirani, tetapi menunjukkan bagaimana kekuasaan yang kehilangan arah moral dan spiritual dapat menjadi racun dalam metabolisme negara.
Caligula adalah metafora bagi pemimpin yang menjadikan negara sebagai panggung ego, bukan sebagai ruang hidup bersama.
Pada tragedi demo dan kerusuhan yang memakan 10 korban dengan kerugian negara mencapai triliun, kita menyaksikan bagaimana beberapa pemimpin justru merespons tuntutan rakyat dengan retorika kosong dan kebijakan represif.
Alih-alih menjadi katalis penyembuhan, mereka memperkuat gejala sakit: mempercepat polarisasi, menutup ruang dialog, dan mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat.
Seperti Caligula, mereka menciptakan bencana untuk kemudian berpura-pura menjadi penyelamat.
Negara pun kehilangan kemampuannya untuk menyerap aspirasi, mengolahnya menjadi kebijakan, dan mendistribusikan keadilan.
Yang tersisa hanyalah tubuh politik yang menggigil dalam ketidakpastian.
Negara bukan mesin, melainkan organisme. Dan seperti semua organisme, ia harus belajar bernapas kembali.
#coverlagu: Lagu "Ruthless Queen" dari band progresif rock asal Belanda, Kayak, dirilis pada tahun 1979 dan menjadi salah satu hit terbesar mereka, mencapai posisi ke-6 di tangga lagu Belanda pada Maret tahun itu.
Lagu ini menggambarkan kisah cinta yang hancur, penuh dengan ambiguitas emosional dan rasa kehilangan.

