![]() |
Oleh : Ririe Aiko
Di cangkir retak pada sudut meja,
aroma getir menjelma kenangan
yang menempel di lidah waktu.
Butir kopi hitam menyimpan rahasia,
setiap tegukan menyalin luka
yang tak sudi hilang dari dada.
Angin menyergap, mencekat napas,
seperti tangan tak kasatmata
menahan langkah hingga nyaris beku.
Rasanya jalan terhenti,
rebah di bawah reruntuh asa,
membiarkan malam menelan sisa cahaya.
Namun kepahitan itu,
meski mengiris dengan kegetiran tanpa ampun,
diam-diam menyalakan bara,
tenaga lahir dari pedih,
keberanian tumbuh
dari racun getir.
Seperti kopi yang tak manis sendiri,
ia butuh gula untuk menyempurnakan rasa.
Hidup pun demikian,
kita butuh sabar sebagai peluruh luka,
yang melarutkan beratnya perjalanan.
Percaya bahwa kepahitan bukanlah akhir,
melainkan cara semesta
menempa jiwa untuk lebih tabah
Menguatkan diri meyakini
Bahwa semua pasti bisa dilewati

