Type Here to Get Search Results !

Gerakan Kebangkitan Kesadaran Spiritual di Indonesia Sudah Memasuki Revolusi

Oleh: Jacob Ereste 

Dari berbagai dialog dengan para tokoh, gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual di Indonesia seperti yang dipelopori oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu yang dipercaya sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara sangat mungkin meningkat eskalasinya menjadi revolusi spiritual di Indonesia, mengingat potensi, sambutan dan antusiasme berbagai kalangan yang kini percaya bahwa spiritual merupakan suatu kekuatan yang mampu memperbaiki kondisi kerusakan yang sangat parah di Indonesia akibat dari terabaikannya etika, moral akhlak mulia manusia dalam cara berpikir, bertindak serta bersikap yang diwujudkan dalam perilaku serta tindakan yang makin brutal. Tiada etika, moral dan akhlak yang melandasi sikap dan sifat dari tindakan yang dilakukan, terutama di tanah tata negara dan pemerintahan yang sangat berpengaruh pada pada pola sikap warga masyarakat pada umumnya.

Potensi revolusi spiritual itu, ungkap Sri Eko Sriyanto Galgendu lebih relevan dan realistis dibanding revolusi mental yang pernah digaungkan pemerintah, karena cuma sebatas slogan belaka, tanpa aksi nyata, lantaran memang tidak ada konsepnya yang bisa dijadikan pijakan maupun rujukan. Sedangkan potensi revolusi spiritual memiliki akar budaya masyarakat religius yang kuat, utamanya dari umat Islam yang mayoritas dan sangat akrab dengan nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas, termasuk tarekat dan tradisi sufistik.

Kecuali itu, tingkat kekecewaan warga masyarakat secara umum terhadap realitas sosio-politik dalam arti ketidakpuasan terhadap perilaku korup yang semakin menjadi-jadi di Indonesia, ketimpangan dan krisis moral -- kepercayaan terhadap aparat pemerintah atau penyelenggara negara secara keseluruhan, menjadi semacam magma pembangkit yang bisa meledak untuk menemukan makna dan solusinya yang cukup tersedia dan sangat relevan dengan gerakan kebangkitan spiritual yang bisa meredakan keserakahan, ketamakan serta kesemena-menaan yang telah dirasakan sebagai penyakit menular oleh warga masyarakat.

Karena itu, upaya untuk menemukan kembali makna hidup dan memperbaiki kualitas kehidupan yang lebih manusiawi -- ilahiah sifatnya -- kini semakin digandrungi oleh generasi muda yang lebih agresif dan militan dibanding orang tua -- terutama dari masyarakat urban di perkiraan yang mulai memasuki wilayah spiritual dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang mereka gulati.

Gerakan kesadaran pemahaman spiritual ini mulai disadari sebagai upaya penyeimbang dalam berbagai tekanan hidup -- utamanya di perkotaan -- sejak awal mencari kerja hingga kebosanan yang mendera saat bekerja sampai akhirnya harus keluar dan memilih pekerjaan yang baru agar dapat lebih sesuai dengan suasana hidup yang bisa menikmati ketenangan batin atau jiwa lantaran meranggas akibat gerusan budaya palsu yang tidak sesuai dengan bisikan hati nurani. 

Karena itu, tempat-tempat ibadah -- Islam, Kristen, Hindu Buddha dan Konghucu hingga beragam bentuk aktivitas dan kegiatan yang diorientasikan pada keagamaan sangat mengesankan, asyik dan dilakukan dengan keriangan serta kegembiraan. Tak lagi tampak atau mengesankan adanya ketegangan. Karena kesadaran dalam menjalankan perintah dan ajaran serta tuntunan keagamaan itu semakin disadari untuk memperoleh kebahagiaan dalam keselarasan dengan alam serta lingkungan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.

Potensi revolusi spiritual di Indonesia sungguh sangat mungkin dan memadai terjadi -- atau dilakukan dengan kesadaran kolektif yang sudah terbangun -- untuk kemudian membentuk konfigurasi yang harmoni, tanpa perlu mempersiapkan latar belakang, budaya maupun bidang profesi atau jenis pekerjaan seperti yang tampak dalam komunitas penulis, jurnalis, penyair dan budayawan yang tampak marak mengekplorasi karya dan gagasan pemikiran serta ide kreatifnya dengan ramuan spiritual yang mengakar kuat dalam tradisi suku bangsa Indonesia yang sangat beragam warna-warninya yang indah dan luhur.

Lebih dari pada itu, peran tokoh karismatik serta beragam tarekat -- seperti dalam lingkungan Islam -- kaum sufi, kiyai, ulama, ustad dari berbagai tarekat seperti pemimpin pesantren -- tampak antusias memberi dukungan dalam membentuk kesadaran kolektif masyarakat yang semakin bersifat religius.

Secara historis pun -- adanya akar sejarah yang kuat yang terentang sepanjang tradisi spiritual -- dalam Islam misalnya -- ada Qadiriyah, Naqsyabaniyah dan Syattariyah serta berbagai tarekat lainnya seperti yang terus berkembang pula dalam agama-agama lain yang ada di Indonesia -- tampak mulai berduyun-duyun mendaki "bukit spiritual" yang mengarah ke puncak gunung untuk melihat panorama indah sabana spiritual yang sungguh sangat menakjubkan. 

Dari beragama tarekat yang terjaga dan terus terpelihara di dalam keragaman masing-masing agama yang ada di Indonesia ini, bukan mustahil revolusi spiritual akan tercapai hingga masing-masing umat beragama mentaati dan menjalankan tuntunan serta ajaran terbaik itu untuk kemaslahatan umat manusia di bumi Nusantara yang akan menjadi panutan atau model dari gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi bangsa-bangsa yang ada di dunia. Dan Indonesia akan menjadi pelopor, pusat serta pemersatu gerakan dari kesadaran serta pemahaman dan membumikan getaran, magnetik dan frekuensi spiritual yang terkoneksi dengan seluruh umat manusia di planet ini.

Jadi memang revolusi spiritual ini, tidak bersifat politis -- kendati tetap memiliki muatan nilai-nilai spiritual-politik. Sebab yang lebih urgen dari revolusi spiritual yang sesungguhnya adalah transformasi batin -- atau jiwa -- kolektif, yaitu kembalinya manusia kepada fitrah kemanusiaan yang mulia sebagai manusia yang mendapat keistimewaan sebagai khalifatullah di muka bumi. Begitulah, etika, moral dan akhlak mulia manusia yang penuh kesadaran dan penuh nilai-nilai ilahiah.

Banten, 15 Agustus 2025

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.