Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Padang Pariaman Butuh "Bupati Karengkang"

John Kenedi Martin 

PADANG PARIAMAN, Sigi24.com--Sebagai daerah rawan bencana, dan tak punya banyak sumber daya alam, Kabupaten Padang Pariaman sepertinya butuh sosok "karengkang" untuk memimpin daerah ini.

Karengkang dalam artian gigih, cekatan, dan punya segudang inovasi yang akan membangkitkan daerah ini dari ketertinggalannya.

Kepala daerah yang punya networking, punya kapasitas dan kapabilitas, dan bisa diterima oleh semua golongan. Sekedar menyebut nama, kepemimpinan Bupati Muhammad Nur dan Bupati Anas Malik di Padang Pariaman masih berbekas sampai sekarang.

Sebagai contoh dari sosok karengkang zaman dulu, yang diterapkannya dalam memimpin rantau pesisir yang terkenal kental dengan budaya "comooh" ini.

Betapa sosok Muhammad Nur yang jadi buah bibir ketika jalan dari Galoro, Patamuan menembus Padang Alai melewati Gunung Tigo tembus oleh kebijakannya untuk membuka akses kedua masyarakat.

Banyak comooh dari masyarakat yang dihadapinya dengan karengkang, yang pada akhirnya, ketika jalan itu tembus, masyarakat jadi malu sendiri.

Begitu juga terwujudnya jembatan di Tandikek. Di Batang Mangoi dan Batang Sani, lancarnya arus transportasi, adalah rintisan Bupati Muhammad Nur yang tokoh VII Koto ini kala itu.

Namanya pun abadi. Dikenang banyak orang, di tengah dia sudah tidak ada. Sama dengan Anas Malik yang juga meninggalkan karya besar untuk daerah ini, yang lama terendapnya dalam ingatan memori masyarakat.

Momen Pilkada serentak November mendatang, setidaknya masyarakat Padang Pariaman dihadapkan dengan realita politik lokal, yang kadang-kadang rumit menjatuhkan pilihan pada sosok calon bupati yang dibutuhkan daerah.

Dari model pencitraan para tokoh, manuver pimpinan partai politik, membuat masyarakat kehilangan politik jangka panjang.

Politik yang membawa pada kemaslahatan, kemajuan nagari dan kampung, kadang hanya sebagai "palamak ota" di kedai. Sementara, greget dan karengkangnya tidak bisa menembus apa yang dibuat dulu oleh Bupati Muhammad Nur dan Anas Malik ini.

Masih menomorsatukan golongan dan kelompok yang dekat dengannya, akan terus membuat masyarakat ini terpecah.

Pilkada hanyalah sebuah proses untuk membangun daerah ini. Daerah miskin, tak punya banyak sumber daya alam, agaknya butuh sosok yang karengkang untuk menggeliatkan daerah ini.

Kebangkitan VII Koto 

Posisi VII Koto yang di tengah membuat tokoh politiknya berjalan dinamis. Bisa gabung menjadi wakil yang bupatinya dari Utara dan Selatan. Seperti yang dicontohkan oleh Damsuar Datuak Bandaro Putiah, ketika jadi Wabup yang bupatinya Ali Mukhni dari Utara.

Namun, kondisi lima tahun jadi Wabup, sepertinya geliat VII Koto tak tampak. "Wabup sama saja tidak ada". Begitu kesan orang VII Koto di belantara percaturan politik.

Tak sekuat cakarannya seperti Bupati Muhammad Nur yang pernah fenomenal di VII Koto dulunya. Dengan demikian, sudah 50 tahun lamanya VII Koto "puasa" menikmati kue pembangunan daerah ini.

Kita bisa lihat sendiri, akses ke Padang Sago dari Kota Pariaman via Ampalu, sudah tidak berbentuk. Di bagian bawahnya, Ampalu, kampung kecil bernama Sikilie, tak disentuh jaringan internet, di tengah digitalisasi saat ini.

Sementara, ketika berpidato di Sungai Sariak, Bupati Suhatri Bur yang kini memimpin Padang Pariaman sering menyebut, sebagian besar kue pembangunan itu dinikmati oleh VII Koto.

Ya, itu ada benarnya. Lihat akses dari 2X11 Enam Lingkung yang menembus VII Koto, lumayan gagah dan mulus. Namun, Limpato, Sungai Sariak hanya bagian terkecil dari VII Koto.

Lurah Ampalu, Lareh Nan Panjang, Ambung Kapur, Balah Aie, masih dianggap belum menikmati pembangunan.

Momen Pilkada, setidaknya memunculkan sejumlah tokoh di wilayah ini. Mencuat nama Bujang Pendawa, Hendri Gusvira lewat Partai Golkar, setidaknya memberi angin segar untuk masa depan VII Koto.

Namun, keduanya digadang-gadang untuk calon Wabup, seperti yang sudah dicoba lima tahun dulu oleh Damsuar.

Sama juga dengan hadirnya tokoh rantau, Yosdianto dan Hendrawarman. Para tokoh ini, sedang berpacu menarik berbagai gerbong kebijakan, agar bisa masuk dalam belantara percaturan November mendatang.

Hanya John Kenedi Martin yang dengan gagah berani tampil untuk calon bupati. Sepertinya, dia sedang dipengaruhi oleh sosok Bupati Muhammad Nur yang pernah sukses dan meraih keabadian nama sampai sekarang.

John Kenedi Martin, suka atau tidak dia adalah politisi senior. Soal akses dan jaringan networking, jangan disebut. Dia termasuk jago dalam hal ini.

Sosok karengkang, setidaknya ada pada John Kenedi Martin. Bergerak di politik kesunyian, dia pun mendaftar sebagai calon bupati di semua partai politik yang membuka pendaftaran.

Meskipun tercatat sebagai Dewan Syuro DPC PKB Padang Pariaman, John Kenedi Martin sepertinya tak ingin menonjol di satu partai.

Makanya, ke Gerindra, Demokrat, PPP, PKS, nama mantan Ketua Golkar tandingan ini sedang dihebohkan, bakal mengembalikan marwah VII Koto. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies