Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ziarah Keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan Oleh: Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Syekh H. Salif Tuanku Sutan.

Guru Besar UIN Imam Bonjol dan Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI Batang Kabung Kota Tangah Kota Padang Tahun 1980. Taushiyah Ziarah Bersama murid dan jamaah Syekh Haji Salif Tuanku Sutan, Guru Besar dan Pendiri PPMTI Batang Kabung Padang, Rabu – Jumat /10-12 Januari 2024/28-30 J. Akhir 1445 H.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun''. (QS. al-Fathir, 28)

Ziarah tahunan murid dan jamaah Buya Batang Kabung, nama lengkapnya Syekh Haji Salif Tuanku Sutan (wafat 1999) adalah wujud dari tradisi meneguhkan silaturahmi awak nan sapaham dan sekaligus memantapkan sanad keilmuan dan silsilah ruhiyah (Tarekat Syathariyah) yang bersambung dengan beliau alhumayarham. Silataruhmisapaguruan, sa surau  dan satu amaliah adalah modal sosial bagi kekuatan untuk kelanggengan komunitas dan paham yang diperjuangkan. 

Pentingnya ziarah bersama ini dan kegiatan sejenis ini adalah menjadi kesempatan untuk menyegarkan betapa bernilainya hubungan ruhaniyah, makna keilmuan dan ukhuwah yang diikat oleh satu mata air keilmuan. Di kalangan ilmuwan sering disebut sanad keilmuan, walau aslinya istilah sanad ini dipakai untuk ilmu hadits, namun kini disering pula dilekatkan dengan sanad dalam artinya pusat dan mata rantai dari guru mana ilmu di dapat dan di institusi mana pula seseorang pernah belajar. 

Sanad keilmuan semangkin perlu diperjelas, sebab ilmu zhahiri dan bathini yang dishare, diperoleh hanya melalui medsostentu tidak salah, namun dalam pandangan ulama sufi, ilmu yang diperoleh tanpa jelas siapa gurunya (syekh), dan tidak tahu pula tempat belajarnya, tidak dapat diterima akurasinya, bahkan ada yang dengan tegas menyebut “manlasyeikhun, syaithansyeikhuhu” (pembelajar yang tak jelas gurunya, setanlah gurunya).

SANAD KEILMUAN SYEKH BURHANUDDIN 

Sanad keilmuan artinya sumber dan mata rantai dari mana ilmu diperoleh. Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai induk sanad dari ulamaahlussunahwal jamaah di Minangkabau, termasuk guru kita Syekh H. Salif Tuanku Sutan (w. 1999),  adalah jelas, nyata dan dapat ditunjukkan faktanya dari murid, jamaah dan lembaga Pondok Pesantren MTI, Masjid, Surau dan halakah yang sepaham di berbagai daerah. 

Keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan berhulu dari ulama yang dikenal sebagai pelopor otodoksi Islam, artinya ulama pejuang dan memegang kuat ilmu-ilmu syariat, tasawuf dan tarekat secara bersamaan dan utuh. Beliau adalah ulama suni yang dalam aqidah mengamalkan paham ahlussunahwal jamaah, Asa'riyahwamaturidiyah,  dalam fiqih mengikuti mazhab yang empat, bertasawuf Imam Junaid, Imam Al Ghazali dan mengamalkan tarekat mu'tabarah, khususnya Tarekat Syathariyah dan Naqsabandiyah. 

Sanad yang dengan jelas dalam penelitian sejarah peradaban Islam dinyata bahwa awal penyebaran Islam yang melembaga di Minangkabau baru abad 10 masehi. Ulama Haramain yang menjadi guru dari ulama-ulama nusantara, adalah Syekh Ahmad Qusyasi(991H/1538M) dan Syekh Ibrahim Al kurani(1081-1145H/1670-1732M) yang menjadi guru utama oleh Syekh Abdur Rauf alSinkili(1024-1105H/1615-1693M), dari beliau ini muncul ulama Syekh Muhyiddinmenyebarkan Islam di Cirebon, dan Pula Jawa, dari Minangkabau itulah Syekh Burhanuddin jelang akhir abad ke 17 M ia kembali ke Minang. 

Azyumardi Azra dalam bukunya Islam di nusantara (Mizan, h.106) menuliskan ....Salah seorang ulama terkemuka pertama Minangkabau ialah Syekh Burhanuddin (1646-1692), yang merupakan pelopor penyebaran Islam di daerah pedalaman Kerajaan Pagaruyung. Syekh Burhanuddin yang menetap di nagari Ulakan, Pariaman merupakan murid dari ulama besar asal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkil, yang dikenal dengan “Tengku di Kuala” atau Syiah di Kuala”

 SYEKH BURHANUDDI, TUANKU ULAKAN 

Penyebaran Islam melalui surau dan kehebatan pengaruh Syekh Burhanuddin atau Tuanku Ulakan dinyatakan Azra sebagai pemegang otoritas keagamaan sampai bangkitnya gerakan Paderi. Pada tahun 1680masehi, Syekh Burhanuddin kembali ke Ulakan dan mendirikan surau di Tanjung Medan yang terletak di kompleks seluas sekitar lima hektare, ia menjadi ulama paling berpengaruh di Minangkabau pada masa ini. Ia wafat 1111H/1704 masehi,  dan saat itu Nagari Tanjung Medan sudah menjadi sumber dan tempat belajar dari berbagai daerah, sehingga Nagari Tanjung Medan dicatat sejarah dengan nagari 100 surau dan muridnya dikenal dengan sebutan Anak Siak.

Syekh Burhanuddin meninggalkan jejak yang luar biasanya, di antaranya sistimpendidikan surau, pola dakwah terintegrasi, menyatu dalam saling menopang dengan adat Minangkabau yang kemudian dibakukan dalam kesepakatan antara kaum adat dengan agama setelah berakhirnya perang Paderi 1838 Masehi, yang dikenal dengan perjanjian di Puncak Pato Bukit Marapalam. Filosofi penyebaran Islam yang akomodatif dan moderat itu dibakukan dalam adigium, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai, syarak mandaki dan adat manurun.

SYEKH, TUANKU, LABAI, DAN URANG SIAK 

Heritage (warisan) budaya luar biasa yang ditinggalkan Syekh Burhanuddin Ulakan dengan tujuan penyatuan (integrasi dan akomodasi) Islam dengan adat Minangkabau adalah mengadopsi dan mengembangkan sistim, metode dan pendekatan budaya yang dilakukan oleh Kerajaan Islam Aceh Darus Salam. Di Aceh ada gelar Tengku panggilan kehormatan untuk ulama, Teuku untuk gelar bangsawan, maka di Minangkabau oleh Syekh Burhanuddin Ulakan diberikan gelar TUANKU untuk ulama, ketika sudah tua dan memiliki kharisma tinggi Tuanku disebut masyarakat dengan SYEKH, lazimnya menambahkan dengan nama nagari atau surau tempat ia berkiprah. 

Pemberian gelar Tuanku bagi ulama yang berasal dari alumni sistim Pendidikan Surau (mangaji duduk)dengan dasar dukungan dan persetujuan ninik mamak. Gelar Tuanku diberikan oleh guru (Buya) bagi sudah belajar ilmu-ilmu keislaman menimalsudah belajar tujuh tahun dan sudah berbai’ah dalam tarekat Syathariyah. Ninik mamak kaum dari sang Tuanku menyetujui dan tidak jarang gelar Tuanku sama dengan gelar Datuknya. Misalnya Tuanku Bandaro, bagi Suku Sikumbang, karena Datuknya juga Bandaro. 

Syekh Burhanuddin Ulakan lebih maju dari apa yang dipelajarinya di Kerajaan Islam Darussalam Aceh, ia juga membentuk pengerak Islam untuk urusan pelaksanaan jenazah dan kebutuhan umat, dengan gelar Labai pada Suku, Nagari, Korong dan Surau Kaum. Untuk kaum perempuan dinamakan Mande Rubiyah. Dalam urusan pelaksanaan agama juga ada istilah Urang Siak , Palo Mukim, dan Pagawai Nagari. 

Gelar Syekh,Tuanku, Labai, Urang Siak, Polo Mukim dan Pagawai masih kuat bertahan, terutamanya di lingkungan penganut paham tarekat Syathariyah yang sanad keilmuan dan silsilahnya tersambung dengan Syekh Burhanuddin Ulakan. Pengerak agama di atas tidak dapat berjalan efektif atau tidak memiliki legitimasi tanpa ada persetujuan ninik mamak sesuai tingkatannya. 

Gelar agama dan adat yang diberikan Syekh Burhanuddin Ulakan ini, kemudian terjadi penyesuian dengan sistim adat dan budaya Minangkabau. Perangkat penghulu, disebut Malin, di Pariaman dipanggil Labai. Selanjutnya urang jinih nan ampek (Qadhi, Imam, Khatib dan Bilal) tetap ada di Pariaman dan daerah yang menganut pola hirarki kultural yang diwariskan (haritege) Syekh Burhanuddin. 

SAHABAT DAN KHALIFAH

Warisan budaya yang masih kuat di memory penganut tarekat Syathariyah adalah adanya empat orang murid Syekh Burhanuddin yang menjadi khalifah utama yaitu, (1). Datuk Maruhun Panjang dari Padang Ganting ahli dalam ilmu fikih, (2). Terapang dari Solok ahli dalam ilmu nahu, (3). Muhammad Nasir dari Padang ahli dalam ilmu tafsir dan (4). Buyung Muda dari Bandar Sepuluh ahli dalam ilmu saraf.

Keempat tokoh penyangga perjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan belum lagi maksimal dikelola di pastikan sanad dan silsilah keilmuannya, bahkan kuburannya belum dijadikan tempat ziarah bagi penganut tarekat Syathariyah. Pengakuan, dan penghargaan yang juga belum mendapat perhatian ulama dan penganut tarekat Syathariyah dan menelusuri jejak peradaban Islam dari guru Syekh Burhanuddin Ulakan sebelum belajar ke Aceh, yaitu Syekh Madinah di Tapakih, yang kononnya pernah singgah di Tiku, kini ada rumah kitab Topah di Tiku Kabupaten Agam. 

Masalah yang patut juga dikaji dan dijelaskan duduk masalahnya adalah berkaitan khalifah Syekh Burhanuddin Ulakan. Dalam realita hari ini ada dua jenis (1). Khalifah dalam arti silsilah keilmuan tarekat Syathariyah, ini ada beberapa orang, dan dipakai dalam nama-nama dan urutan yang tidak seragam. (2).Khalifah dalam makna penguasaan ulayat yang berhubungan dengan Ninik Mamak pemegang ulayat tanah berdirinya Makam, Surau Pondok dan Surau Tanjung Medan, dan benda purbakala yang tersimpan di surau Pondok. 

BASYAFA DAN ZIARAH BERSAMA 

Tradisi yang tak hentinya sangat besar mendatangkan berkah dan ekonomi,yang hadir atas jasa besar dan kemulian ulama (Syekh Burhanuddin Ulakan, Sahabat, Khalifah dan Muridnya) adalah ziarah, basyafa dan ziarah bersama. Peringatan Syafar atau populer dengan Basapadilakukan setiaptahun, hari Rabu kedua pada bulan Syafar yang itu di dasarkan pada hari wafatnya, disebut juga dengan peringatan haul. 

Kegiatan basapa kini tidak saja lagi setiap bulan Syafar, tetapi juga pada hari Ahad terakhir bulan Sa’ban, dikenal dengan Syafa Tuanku Salih Keramat. Kegiatan lain yang rutin setiap Rabu akhir bulan Jumadil akhir dilaksanakan pula ziarah bersama murid, pengikut dan surau yang sepaham dengan Syekh Hajil Tuanku Sutan, disebut Syafa Angku Batang Kabung Padang. 

Ziarah rutin ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan setiap hari tetap aktif dikunjungi umat Islam dari berbagai daerah di Nusantara. Semangkin baiknya sarana makam, masjid dan lingkungan makam, sayang belum diikuti oleh manajemen dan pengaturan memadai oleh pengelola lokal. Sudah saatnya Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Pariaman terlibat aktif menata, mengelola dan mengembangkan potensi ziarah, dan wisata religius Makam Syekh Burhanuddin Ulakan sesuai syari’ dan sekaligus membawa berkah rezeki, usaha dan pengembangan ekonomi bagi masyarakat sekitar Ulakan Tapakis.  

KHATIMAH

Patut diingatkan bahwa menziarahi ulama maknanya menguatkan sanad keilmuan, menjelaskan silsilah ruhaniyah, memuliakan ulama yang mencerahkan dan mensejahterakan umat, walau ia sudah dipemakaman, namun ia terus membawa berkah, rezeki dan sumber ekonomi untuk pengikutnya. 

Keulamaan, dan keilmuan yang dibangun dengan ikatan tradisi, adat dan budaya lokal ternyata berdaya tahan lama dan efektif dalam dakwah berkelanjutan. Syekh, Tuanku, Labai, Urang Siak dan tokoh adat yang loyal pada Syekh Burhanudin adalah figur sosial kemasyarakatyang berhutang budi pada Syekh Burhanuddin Ulakan, maka silaturahmi yang kokoh dan saling menguatkan adalah cara terbaik untuk “membayar hutang budi” ketika tradisi keilmuan dan keulamaan Syekh Burhanuddin Ulakan “digugat” dan dipandang remeh oleh siapapun dan cara-cara yang terpuji. 

Tuanku, pengikut dan pengamal tarekat Syathariyahdi Minangkabau dan dimana saja diminta untuk menempatkan Syekh Burhanuddin Ulakan sebagai ulama bersanad, bersilsilah dan mengamalkan paham keagamaan seperti gurunya SYEKH ABDUR RAUF AL SINKILI yang bermakam di Kuala Banda Aceh, berpahamahlusunnahwal jamaah (ortodoksi Islam) artinya yang menyelaraskan antara Syariat, Tasawuf dan Kearifan Lokal.  DS.10012024M/28061445H. 

 (II) 

PPMTI DAN TAHUN POLITIK

Oleh: Duski Samad

Guru Besar UIN Imam Bonjol dan Alumni PPMTI 1980

Milad Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung Koto Tangah Padang yang ke 68 (1955-2023) yang sedang diperingati di tahun politik ini mengharuskan semua keluarga besar dan jamaah ahlussunah waljamaah yang sama afilisiasi paham keagamaan ini melek atau mengerti dengan politik. Helat politik yang dimaksud adalah Pemilihan Umum memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota legislatif DPRD Kabupaten Kota, DPRD Provinsi dan DPR RI yang tahun 2023 ini sudah berlangsung tahapannya.

Kiprah dan pengabdian eskponen PPMTI sebagai bahagian dari komunitas dan warga bangsa yang memiliki ikatan emosional, ikatan keagamaan dan hubungan kejiwaan antara sesama alumni dan jamaah tentu akan dilirik oleh partai politik, tokoh politik dan calon kontestasi politik, termasuk ivent milad ke 68 ini tak akan lepas dari kunjungan yang boleh saja ditafsirkan sebagai kegiatan politik, setidaknya politik dalam makna saling mempengaruhi.  

Namun perlu diingatkan keluarga besar PPMTI diharapkan tidak salah paham tentang politik. Politik mesti dimaknai dalam koridor penegakkan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana sudah amanahkan oleh founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Politik yang diorentasikan sebagai jalan untuk tegaknya amar ma’rif nahi munkar. Artinya dapat dikatakan bahwa politik yang dimaksud disini adalah politik yang basis keislamannya jelas dan terukur, dikarenakan PPMTI sebagai intitusi keislaman yang sudah cukup dewasa. 

Islam dan hubungannya dengan politik Islam diawali menyebut politik dengan istilah Siyasah. Jika yang dimaksud politik adalah siyasah mengatur segenap urusan umat, maka Islam sangat menekankan pentingnya siyasah. Bahkan Islam sangat mencela orang-orang yang tidak mau tahu terhadap urusan umat. Tetapi jika siyasah diartikan sebagai orientasi kekuasaan, maka sesungguhnya Islam memandang kekuasaan hanya sebagai sarana menyempurnakan pengabdian kepada Allah. Tapi Islam hanya menjadi sarana dalam masalah kekuasaan.

Dalam ikhtiar mendorong semua pihak agar dapat menempatkan lembaga keagamaan, lebih lagi lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren dalam posisi yang tepat maka ada tiga prinsip pokok yang mesti diperhatikan semua pihak, sehingga PPMTI semangkin kuat dan maju dalam menghadapi tantangan ke depan.  

PENJAGA KESATUAN BANGSA 

Eksponen PPMTI diminta untuk teguhkan pada amanah pimpinan PPMTI ini sejak awal sudah menunjukan kesungguhan menjaga kesatuan, persatuan dan kebaikan negara. Mencintai negara sebagai bahagian dari iman, ungkapan hikmah ini mesti menjadi pegangan. Kesadaran pentingnya menjaga kesatuan dan kebaikan bangsa dan negara tentu akan menghadir alumni dan jamaah yang siap mensukseskan agenda nasional Pemilu. 

Keluarga besar PPMTI sadar dan paham bahwa pilihan politik, partai politik dan politisi yang akan dipIlihnya dalam pemilihan umum adalah melekat dengan nilai-nilai keislaman yang diyakininya. Jangan ada pihak yang tidak mampu membaca tanda-tanda zaman, dan kecendrungan partai politik bagi kepentingan paham keagamaan. “sadangkan lai urang awak nan dipilih, masih perlu perjuangan untuk tegaknya amar ma’ruf nahi munkar”

Keluarga besar PPMTI tidak boleh bergeser dari sumbu perjuangan yang telah diletakkan pendiri lembaga ini. Tegaknya Islam rahmatan lil alamin, ahlussunah wal jamaah, dan identitas lainnya hendaknya tetap menjadi pedoman. Patut diingatkan lebih jelas, bahwa Islam bukan hanya agama ibadah saja melainkan agama ideologi yang memiliki tatanan yang sempurna. Karenanya, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan dan hubungan internasional.

Islam dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara, sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja. Namun, Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kedzaliman oleh penguasa. 

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).“

Dalam sejarah perjuangan para sahabat terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwasannya agama Islam memang memiliki otoritas terhadap politik. Salah satu yang menjadi bukti sejarah perpolitikan pada masa itu adalah ketika mengangkat seorang khalifah (kepala negara pengganti Rasulullah).

Pesan pentingnya adalah pimpinan, majelis guru, pengurus dan semua alumni, dan jamaah PPMTI tidak boleh absen dalam mensukseskan pemilihan umum sebagai wadah penyaluran aspirasi politik. Gerakan apapun oleh siapapun yang akan menggagalkan pemilu atau mendorong orang tidak ikut memilih (golput) adalah perbuatan tercela dan harus dicegah. 

MENJAGA KEMULIAAN GURU DAN LEMBAGA 

Realitas yang tak mudah menepisnya bahwa suasana perpolitikan mengharuskan adanya saling mempengaruhi adalah tantangan yang mesti dihadapi dengan baik dan benar. Kunjungan politisi, bantuan partai politik, hubungan silaturahim antara pimpinan lembaga dengan pihak yang sedang berada dalam pusaran politik praktis adalah wajar dan dapat dimaklumi bila interaksinya berada dalam batas norma agama, hukum dan kepatutan sosial. 

Menjaga kemulian lembaga PPMTI, alumni dan jamaah yang berhubungan dapat dilakukan dengan tetap pada jati diri lembaga bahwa PPMTI didirikan dan mengabdi dari umat untuk umat. Pimpinan, majelis guru, santri, pengurus dan jamaah agar lebih mengedepan akhlak mulia, tidak melakukan transaksi tercela, menjauhi prilaku yang merusak kemulian Islam, dan lebih dari itu diharapkan menjadi teladan.  

Harap diingat bahwa PPMTI lembaga yang akan terus berjuang untuk umat dan bangsa, sementara politik praktis hanya akan berlangsung sesaat, oleh karenanya menjaga kemulian Islam, Pondok Pesanteren akan abadi. Ingat pesan Buya pendiri Syekh H.Salif Tuanku Sutan (alm) marah dengan tikus, jangan rangkiang yang dibakar (jika tidak suka dengan orang perorang, jangan institusi yang dirusak).  

MENEGUHKAN SILATURAHIM  

Meneguhkan silaturahim maksudnya adalah mengingatkan bahwa adanya alumni, dan jamaah yang ikut aktif dalam kontestasi politik pada partai yang berbeda adalah rahmat dan kekuatan bersama. Silaturahim dalam keberbedaan tentu dapat dijaga bila dipahami arti dan fungsi persaudaraan, sa surau, sa guru dan samo kaji. Berbeda pilihan politik dan wadah politik wajar, namun yang tak boleh dilupakan adalah bahwa figur politik atau politisinya itu sahabat, kawan sapaguruan, diharapkan tetap kuat, dan tidak boleh tergerus silaturahim sedikitpun.

Adigium yang lazim dalam kehidupan, jika ada sahabat dan orang kita, mengapa pilih yang lain? Politik identitas dalam makna memuliakan silaturahim dan hubungan sosial adalah keniscayaan dan diyakini akan meneguhkan hubungan dalam jangka panjang. Patut juga diingatkan bahwa demokrasi terbuka dan berbasis figur calon ini adalah peluang untuk lebih mengutamakan sahabat dan mereka yang memiliki ikatan primordial. 

Dalam kepentingan lembaga PPMTI juga akan besar manfaat dan konstribusinya bila alumni dan jamaah yang didukung berhasil duduk di legislatif atau eksponen PPMTI berada dalam barisan pemenang dalam konstestasi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sudah waktunya, usia 68 tahun, keluarga besar PPMTI bersatu dan menyatu untuk kebaikan kolektif dan tentu akan menguatkan lembaga ini di masa datang. Namun, perlu pula disadari bahwa politik itu dinamis dan hubungan timbal balik perlu diperkuat dan taat pada regulasi. 

Sebagai alumni yang sejak 1973 mengikuti dinamika, interaksi dan sikap Buya pendiri dalam menyikapi politik praktis di saat akan pemilihan umum, beliau memilih kokoh dengan pendirian politiknya, namun tidak mau membuat lembaga PPMTI sulit, sehingga setiap akan Pemilu di masa orde baru dulu, beliau selalu hijrah ke tempat sahabatnya atau muridnya di luar Kota Padang. 

Namun, kini di era reformasi suasana, iklim dan dinamika politik sudah berubah 180 derajat. Menjauhi arena politik, justru akan menjadi korban politik. Berpolitik sesuai aturan, cerdas, bijak, dan berakhlak mulia adalah pilihan tepat untuk memperjuangan paham dan cita-cita perjuangan bersama. Akhirnya kepada semua eksponen PPMTI, alumni dan jamaah dihimbau untuk terus bergerak bagi kemajuan bersama. Jaga NKRI, muliakan PPMTI dan teguhkan silaturahmi yang Islami, selamat berjuang bagi kandidat alumni PPMTI di arena konstetasi Pemilu 2024. Instanshurullah yanshurkun, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan membantumu.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies