Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kurban, Sedikit Bagi Bercacah, Banyak Bagi Beronggok

Pembagian daging kurban secara beronggok di Kabupaten Agam. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Di Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat sepertinya pelaksanaan Shalat Idul Adha tiga hari.

Sepanjang pantauan dan informasi dari berbagai tokoh agama dan tokoh masyarakat, hari ini, Rabu (28/6) sebagian, terutama di titik perkotaan melakukan Shalat Idul Adha.

Mereka berpedoman pada ketetapan 10 Zulhijjah yang diedarkan Muhammadiyah. Tahun ini Muhammadiyah dan keputusan Menteri Agama berbeda pelaksanaan shalat setahun sekali itu.

Baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Berbeda sehari.

Sementara, dari jalur nasional memutuskan Shalat Idul Adha, Kamis (29/6). Dan lewat jalur ini mungkin lebih banyak dari yang Shalat Rabu.

Dan terakhir jalur hari Jumat (30/6). Ini terkenal dengan kelompok yang bersandar ke Ulakan, Syekh Burhanuddin.

Terkenal juga sebagai kaum Syattariyah, dan kelompok ini termasuk yang dominan di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Bagi masyarakat dan tokoh agama, perbedaan cara pandang, sehingga berbeda pula penetapan hari raya adalah hukum alami, dan harus dihormati.

Tak perlu ada saling menyalahkan. Toh yang benar itu adalah hak proregatifnya Allah SWT. Sang pemilik kebenaran.

Manusia, menetapkan hari itu berdasar ilmu dan keilmuan yang sudah dipelajari. 

Nah, mengkaji perbedaan hari raya itu, sudah dipastikan, sampai hari Senin mungkin masih ada proses penyembelihan hewan kurban.

Sebab, berkurban boleh dilakukan selama Hari Tasrik. Tentu perbedaan yang tidak diperdebatkan, adalah bagian dari "kurban" kita setiap tahunnya.

Ya, kurban untuk tidak menonjolkan kelompok kita dan menyalahkan kelompok lain yang tidak seirama dengan kita.

Yang penting dan perlu itu, bagaimana semua rumah ibadah umat Islam, baik masjid maupun surau melaksanan shalat tahunan itu.

Perbedaan itu sudah ada sejak zaman dulu. Dulu sekali mungkin, zaman masih banyak kesusahannya, belum secanggih sekarang.

Dan jelas sangat tidak bisa disatukan. Serentak semuanya pada hari yang sama berhari raya, sangat tidak mungkin dan tidak bisa.

Tentunya, perbedaan ini juga bagian dari proses pendewasaan kita dalam beragama dan mensyiarkan agama lewat nilai-nilai tersebut.

Menurunkan ego dan kesombongan, serta menghormati yang berhari raya tidak sama dengan kita, adalah anjuran dalam beragama.

Kurban

Mulai Rabu ini, penyembelihan, pembagian daging kurban pun dilakukan masyarakat.

Kurban berlangsung secara ritual dan sosial yang beragam, sesuai kearifan yang berlaku di tempat penyembelihan kurban tersebut.

Nilai kurban pun tak sama diantara masjid dan surau yang ada di suatu nagari. Ada yang menetapkan nilai satu kurban Rp2,6 juta, dan banyak pula yang membuat di atas harga itu, bahkan yang kurang dari Rp2,6 juta pun banyak.

Menurut seorang imam masjid di Padang Pariaman, ibadah kurban ini sebaiknya dilakukan oleh semua yang terlibat dalam kepanitiaan kurban yang dibentuk oleh pengurus masjid.

Tidak peserta saja yang termasuk ke dalam orang yang berkurban pada momen Idul Adha ini. Tetapi, para pekerja yang tidak ikut kurban, juga bisa dinilai sebagai peserta kurban.

"Ya, kurban tenaganya lewat sosial kemasyarakatan, menyembelih, membersihkan dan ikut mengerjakan, sehingga daging kurban terdistribusi secara baik dan benar," katanya.

Bukan sebaliknya. Yakni, panitia dan pekerja mencari upah di sini. Dan memang itu tidak dilarang, tetapi bila penyelenggara diupah, maka dia sedang tidak ikut berkurban, melainkan sedang bekerja, mencari nafkah.

Kini, hampir seluruh penyelenggaraan kurban itu main upah. Mulai tukang sembelih, tukang cincang diupah oleh panitia, yang tentunya upah diambilkan dari uang peserta kurban.

Makanya, nilai kurban sedikit lebih tinggi dan mahal bilang dibandingkan dengan kurban di tempat lain.

Idul Adha sebenarnya mengajak semua umat Islam untuk berkurban. Berkurban hanya sekali dalam setahun.

Pendidikan kurban diajarkan langsung oleh Nabi Adam AS, lewat kurban dua putra tertuanya, Habil dan Qabil.

Kemudian, kurban juga diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS, yang mengorbankan putra tersayangnya, Ismail, yang kemudian diganti oleh Allah SWT dengan seekor kibas.

Dua contoh kurban sebelum Nabi Muhammad Saw ada itu, adalah contoh utama, dan amat menentukan diterima atau tidaknya kurban kita oleh Yang Maha Kuasa.

Baik dari segi barang dan harta yang dikurbankan, maupun dari niat dan tujuan mulia kita berkurban.

Kurban tidak boleh sembarangan. Semisal ternaknya sakit atau cacat, ini akan mengganggu nilai baik kurban kita.

Jangan hanya mengharap untung besar, lalu dicari sapi yang murah harganya, cacat pula. 

Nah, tentu ini perlu jadi catatan oleh panitia, agar mengutamakan kualitas dari kurban. Yang berkurban puas dan senang, panitia bekerja dengan riang gembira, seluruh lingkungan dan fakir miskin dapat bagian dari kurban tersebut. 

Maumpuak daging. Artinya, dalam suatu nagari atau kampung yang menyelenggarakan kurban, setelah semua sapi disembelih, lalu daging diumpuak.

Di Minangkabau terkenal istilah, saketek bagi bacacah, banyak bagi baumpuak.

Ya, dibagi secara beronggok, sesuai jumlah penerima yang ada dalam kampung itu. Umum, tradisi ini hampir berlaku di Padang Pariaman bagian perkampungan.

Bisa jadi satu onggok atau umpuak tadi jumlah daging mencapai dua kilogram. Itu tergantung pada jumlah sapi dan jumlah penerima. Apalagi, penerima kurban itu tidak berpatok pada kaum fakir miskin saja, tetapi juga keluarga, tetangga dan peserta kurban itu sendiri juga punya bagian dari kurban itu. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies