Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Mengembalikan Nama Besar Syekh Madinah Nan Hilang

Surau Jambu di Toboh Kambie. (ad)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Toboh Kambie nama kampungnya, masuk Nagari Lareh Nan Panjang Barat. Perkampungan ini masih asli, karena lebih luas lahan pertanian sawah ketimbang pemukiman warga.

Jejak peradaban Islam di kampung yang masuk wilayah Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman ini masih ada. Di kampung ini Syekh Madinah, guru pertama Syekh Burhanuddin bermakam.

Dan di komplek makam Syekh Madinah itu pula seluruh Tuanku Kadhi VII Koto bermakam. Dan di kampung ini pula Masjid Raya VII Koto berdiri sejak saisuak, dan sampai sekarang hingga akan datang tentu masih seperti demikian.

Sekeliling Masjid Raya VII Koto terbilang cukup banyak surau. Bahkan di bagian hilirnya Toboh Kambie, Kampung Surau nama sebuah kampung.

Sungai Batang Piaman yang melintasi kampung itu menjadi tempat mandi oleh masyarakat. Sungainya tidak sebesar Sungai Batang Anai dan tidak sekecil Sungai Batang Ampalu. Ada musim dan siklus, ketika musim hujan, besarnya bisa memusnahkan lahan pertanian masyarakat di tepinya.

Bagindo Junaidi, salah seorang tokoh masyarakat Toboh Kambie ini sering bercerita soal kampungnya itu. Dia bersama masyarakat di situ mendirikan sebuah yayasan, memakai nama Syekh Madinah. Artinya, dia ingin adanya kelanjutan pembangunan agama lewat nilai-nilai ajaran Syekh Madinah ini.

Ya, sebuah pesantren yang akan membentuk karakter dan akhlakul kharimah tentunya, seperti yang ditinggalkan Syekh Madinah dulunya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan oleh Buya, begitu banyak orang menyapa Bagindo Junaidi ini, kenapa orang tiap hari ramai ziarah ke Ulakan, makamnya Syekh Burhanuddin, sementara ke makam Syekh Madinah yang gurunya Syekh Burhanuddin jarang orang berkunjung.

Tentu ini menjadi landasan bagi Buya dalam membangun sebuah pesantren modern, tempat mempelajari peradaban Islam itu sendiri, sekaligus mengembalikan nama besar Syekh Madinah.

Senin (30/5/2023) untuk kesekian kalinya diskusi kami dengan Buya soal ini. Bahkan, diskusi berlanjut setelah bersua seorang tokoh agama yang terbilang semenda dalam kampung itu, yakni Bustanul Arifin Khatib Bandaro.

Kami diskusi tentang banyak hal, sambil menikmati ketupat tunjang yang belakangan terkenal di Toboh Kambie itu. Enaknya ketupat gulai ini, hampir sama asyiknya diskusi, sehingga tak terasa waktu berjalan.

Ngelantur kian kemari. Tapi berisi. Ada soal politik identitas, oligarki, sampai ke intoleransi dan radikalisasi. 

Termasuk juga tokoh VII Koto yang akan didukung untuk jadi anggota dewan, sampai ke persoalan partai nasionalis dan Islam. Pokoknya cerita panjang dan lepas.

Sebelumnya, kami melihat anak nagari yang sedang bekerja membuat jalan. Jalan menuju sungai di bagian hilir jembatan Toboh Kambie.

Buya menyebutkan, kalau para pekerja ini adalah anak nagari yang terbilang sanak kemenakannya. 

"Ini jalan yang didanai dari anggaran nagari, mungkin sekitar Rp 100 juta anggarannya," kata mereka. 

Bercerita sambil istirahat bekerja, Buya memberi semangat kepada masyarakat itu. Ya, semangat untuk kuat dan rajin bekerja hendaknya berbarengan dengan rajin beribadah.

Buya menceritakan pengalamannya yang susah mengajak masyarakat untuk beribadah di masjid dan surau. 

"Dulu, saya sering Subuh di masjid ini. Ketika saya ingin azan terlebih dahulu, oleh mendiang Tuanku Kadhi dijelaskan, supaya langsung saja iqamah. Sebab tak akan yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah," cerita Buya.

Buya ingin sekali Subuh itu semarak. Orang berdatangan ke masjid untuk memenuhi panggilan azan yang bergema, membuncahkan kampung untuk segera bangun dari tidurnya.

Tetapi itu benar yang terasa sulit di dalam kampung. Malah di kampung, kecenderungan masjid itu aktif seminggu sekali, Jumat. Nah, kondisi ini harus dirubah. Masjid dan surau harus ada azan tiap waktu shalat masuk. Harus ramai shalat berjamaah, sesuai jumlah penduduk yang mendiami kampung itu.

Untuk memulai semaraknya beragama itu, Surau Jambu sengaja dibuat untuk itu. Suraunya sederhana, ada beberapa orang lansia yang tidur malam di situ, agar tidak putus shalat berjamaahnya tiap waktu.

Surau Jambu ini bagian dari komplek pesantren yang direncanakan Buya bersama masyarakat di situ. Hanya saja Buya belum bisa maksimal di kampung, lantaran belum bisa melepaskan usahanya di Riau.

Buya ingin, lewat pengabdiannya di tengah masyarakat itu, amar makruf nahi munkar bisa berjalan sebagaimana mestinya. (ad)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies