Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Zaitul Makmur dan Kisah Sukses yang Bermula dari Guru MDA

Zaitul Makmur memberikan penghargaan kepada satu seorang siswi yang meraih prestasi. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com---Jalan panjang dan berliku, mendaki dengan sangat tinggi, lalu menurun dengan tebing yang curam, serta bahaya lainnya yang selalu menghadang. 

Hanya kesabaran dan kesungguhan, semua rintangan dan tantangan itu bisa dihadapi dengan baik, sehingga mimpi indah datang pada waktunya. 

Ini sekelumit kisah Kepala MTsN 2 Padang Pariaman, Zaitul Makmur dalam menapaki impian untuk bisa jadi guru PNS. 

10 tahun menghonor, dari 1996-2006 rasanya waktu yang cukup panjang. Untungnya, Zaitul Makmur dalam masa itu tak satu jalan menghonor saja yang digelutinya. 

Sebagai orang yang dididik dari jalur agama di MTsN Pauh Kambar, lalu melanjutkan ke MTI Pariangan, Tanah Datar, dan IAIN Imam Bonjol, tentunya menjadi modal dasar bagi Zaitul Makmur dalam melakukan honor di jalur Pendidikan Agama Islam (PAI). 

Pulang dari honor, Zaitul Makmur tak betah berdiam diri. Ada banyak kegiatan lain yang tentunya sudah teragendakan yang dilakukannya. 

Dia juga mengelola pendidikan MDA di kampungnya. Ya, sebagai kerja sosial keagamaan, membangun pendidikan dasar agama anak-anak kampung. 

MDA di zaman itu, adalah pendidikan surau yang sudah dikelola secara profesional. Kerja honor tetap dilakukan, mengajar dan mengelola MDA pun tak pernah ditinggalkannya. 

MDA, ya Madrasah Diniyah Awaliyah. Pengembangan atau alih nama dari TPA/TPSA, dan sekarang meningkat lagi. MDTA namanya. 

Pendidikan MDA itu tidak saja sekedar mengaji Quran. Praktek ibadah, shalat berjamaah, dan pengembangan minat dan bakat anak pun dikembangkan.

Perjalanan demikian, 10 tahun dari 1996-2006 tentu tidak terasa lama, bila disibukan dengan kegiatan lainnya, seperti yang dilakukan Zaitul Makmur dalam mengembangkan dakwahnya. 

Di tambah rentang waktu yang selama itu, Zaitul Makmur juga ikut melabuhkan kemampuan ilmunya di dunia politik. 

Dia ikut partai politik, karena honorer tak dilarang masuk partai. Beda halnya dengan PNS, yang dilarang atau tidak boleh masuk partai. 

Masuk ke PAN, Zaitul Makmur mengaku mengagumi sosok Prof. Amien Rais, sang pendiri sekaligus Ketua Umum DPP partai itu. 

Suka duka dan dinamika tak bisa dielakkan. Ya, itulah perjuangan. Tak ada yang mulus dan instan. Semuanya butuh proses dan gejolak yang harus dikelola dengan baik dan santun. 

Kadang membosankan, kadang mengasyikan. 2007, Zaitul Makmur diterima sebagai CPNS dari jalur PAI di lingkungan Kemenag Padang Pariaman. 

Mimpi dan keinginan serta cita-cita yang mulai menampakan hasil. Sebelum diserahkan ke MAN, Zaitul Makmur dibina soal etika sebagai seorang ASN di lingkungan Kemenag. 

Mengaplikasikan ilmu yang dituntut dulunya di sekolah dan perguruan tinggi yang kini bernama UIN Imam Bonjol. 

Oktober 2007, Zaitul Makmur resmi diserahkan ke MAN I Padang Pariaman sebagai guru PAI dari PNS. 

Pria kelahiran 1973 ini langsung melapor ke pimpinan sekolah, sesuai SK yang dia terima dari Kemenag.

Ya, guru PAI. Sayang, saat dia melapor itu, guru PAI sudah penuh. "Jam PAI sudah tidak ada. Yang ada hanya jam untuk bidang studi PPKN," kata pimpinan MAN I Padang Pariaman. (bersambung) 








Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies