Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Cerita Gelas Menggoyang Kopi yang Menarik Wartawan Bumi Lancang Kuning

 

Hangatnya panas di Kota Pekanbaru, pagi Sabtu (13/11/2021) sudah terasa. Riau-lah namanya, sudah lama terkenal hangat. Lebih hangat pula dari "paneh Lubuk Alung" di Kabupaten Padang Pariaman. Dari sebuah penginapan di jalan Sudirman, mobil Camry yang dikemudikan Oyong Liza Piliang sehabis sarapan langsung meluncur ke jalan Arifin Ahmat, tepatkan ke Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau.

Meskipun operator google map menyebutkan, kemungkinan kantor tempat berkumpulnya pekerja yang dulu terkenal dengan kuli tinta itu tutup, Ketua PWI Pariaman Ikhlas Bakri bersama rombongan tetap saja melanjutkan kunjungannya. Sebelumnya, Jumat sore sudah dikomunikasikan kepada Ketua PWI Riau Zulmansyah Sekedang soal kedatangan silaturrahmi tersebut.

Tak pakai waktu lama, dari seberang jalan yang kami lewati di sebelah kanan, sudah tampak kantor wartawan itu gagah dan kokoh. Merek PWI Riau ditulis sebesar mungkin, membuat tak sulit mencari alamatnya. Masuk ke halaman kantor, tak ragu lagi, berfoto menjadi momen pertama saat menginjakkan kaki di "rumah wartawan bumi Lancang Kuning" itu.

Cerita panjang lebar yang menyingkap banyak memori pun terungkap antara wartawan yang datang dari Pariaman dengan wartawan yang bertugas di tanah Melayu itu. Tak dipungkiri, banyak "orang awak" yang sukses dan melanjutkan profesi jurnalistiknya di kota itu. Mereka lebih sukses dan tentunya lebih sejahtera bila dibandingkan pada saat bekerja dengan profesi yang sama di kampung halaman sendiri.

PWI Riau sepertinya tak pernah sepi dari kegiatan. Hari itu, Sabtu kantornya tetap ramai. Sejumlah pengurus dan wartawan senior pada ngumpul, berdiskusi. Sedangkan para ibu-ibu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Riau pun berkegiatan yang tidak kalah heboh dan serunya di kantor yang cukup besar dan terkesan mewah itu.

Tak sekedar diakui, tapi pun memang kenyataannya begitu. Ada spanduk tetang "ngobrol pintar" yang disingkat "ngopi pintar", tentu membahas dan mendiskusikan banyak hal dan beragam judul yang terkait dengan pembangunan, politik, sosial budaya dan ekonomi serta masalah lainnya di provinsi itu.

Ada juga wartawan mengaji. Ini adalah program Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di kalangan wartawan. "Jadi, wartawan tak hanya pintar berwacana melalui karya tulisnya, tapi juga jago dan pandai membaca secara baik dan benar kitab suci umat Islam. Quran, yang merupakan kitab pegangan dalam hidup dan kehidupan umat Nabi Muhammad SAW," cerita Zulmansyah Sekedang, mengawali sekapur sirihnya saat dia terlambat datang.

Zulmansyah, sesuai foto yang terpampang di baliho bagian atas kantor itu memang orangnya gagah, dan pintar. Tak salah masyarakat pers Riau yang tergabung dalam PWI mempercayai tokoh yang juga "sumando" Piaman ini jadi nakhoda PWI yang tahun ini juga habis masa jabatannya.

Dia sering ke Pariaman, terutama menikmati keinginan yang suka memakan gulai kepala ikan. "Di Pariaman itu gulai kepala ikannya enak dan murah lagi. Saya sering dan acap ke sana," ujar dia berbasa-basi dengan rombongan dari Pariaman.

Yang menarik dari kepemimpinan Zulmansyah di PWI Riau, adalah peningkatan sumber daya manusia wartawan terus berjalan sesuai tuntutan profesi wartawan hari ini. Peningkatan SDM melalui Uji Kompetensi Wartawan (UJK), sering dan acap dilakukan untuk meningkatkan kompeten. Hebatnya, UJK itu dilakukan dengan menggandeng pihak ketiga, sehingga wartawan yang ikut tak dipungut biaya, alias gratis.

Begitu juga dalam merekrut anggota PWI, berupa kegiatan orientasi wartawan juga menjadi masalah yang amat penting dilakukannya dalam memperbesar organisasi. "Seluruh kabupaten dan kota di Riau, PWI-nya sudah dilantik dan dikukuhkan. Yang paling dominan, tentunya jalan-jalan atau raun-raun, baik di dalam maupun ke luar negeri," ujar dia.

"Bagi kawan wartawan daerah, jalan ke luar negeri diundi pada saat datang masanya kegiatan itu. Terkesan, ada semacam giliran yang dilakukan secara profesional," ulas dia lagi.

PWI Riau memang besar, dan dalam Kongres PWI, Riau punya empat suara. Sumbar, sampai sekarang baru dua suara. Tentu jumlah suara dalam iven nasional itu bergantung pada jumlah anggota.

Sejenak di PWI Riau dengan sesama wartawan, tentu mempunyai kesan tersendiri. Orang awak menyebut berbalas pantun. Guyonan dan bahasa nyentrik pun berhamburan keluar dari masing-masing yang hadir dalam forum yang singkat, tapi berkesan. Zulmansyah dan kawan wartawan Riau pada ketawa lepas, ketika Ikhlas Bakri memuji kegagahan dan kehebatan Ketua PWI itu.

"Kenapa wanita Minang dan Padang Pariaman bisa dan mampu membawa dan menjadikan orang gagah ini jadi semenda. Tentu peran yang tak kalah pula hebatnya dimanikan oleh Bundo Kanduang," kata dia.

Menurut Zulmansyah, yang paling berkesan dari wanita Minang, adalah ibarat hidangan segelas kopi. Sendok kecil di dalam gelas tak menggarik mengacau kopi, tapi gelas gelasnya sendiri yang bergoyang, sehingga kopi pun terseduh dan membuat yang menikmatinya jadi senang.

Jawaban Zulmansyah, membuat suasan tambah ramai. Gelak tawa pun lepas, yang pada akhirnya memperkuat hubungan silaturrahmi antara kedua daerah.

Jamuan makan siang dan foto bersama, mengakihir diskusi dan silaturrahmi PWI Pariaman dengan PWI Riau. Dengan kesimpulan, peningkatan sumber daya manusia wartawan tak boleh hilang. Kegiatan itu harus berkesinambungan. Apalagi di tengah perubahan yang datang begitu kencang di era digitalisasi saat ini.


Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies