![]() |
Oleh: Ririe Aiko
Penulis dan Konten Kreator
Beberapa waktu lalu, saya mengadakan AI Storytelling Workshop, sebuah pelatihan yang saya inisiasi untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan secara positif, khususnya di kalangan pelajar. Bagi saya, perkembangan AI yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menggunakannya secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.
Kehadiran AI memang membawa banyak kemudahan. Berbagai informasi dapat diperoleh dalam waktu singkat, pekerjaan menjadi lebih praktis, dan berbagai ide dapat dikembangkan dengan bantuan teknologi. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diikuti dengan kesadaran bahwa AI bukanlah sumber informasi yang selalu benar dan tidak seharusnya menggantikan proses berpikir manusia.
Hal ini menjadi semakin penting ketika AI digunakan oleh pelajar. Di satu sisi, AI dapat menjadi teman belajar yang membantu menjelaskan materi, menemukan referensi, atau mengembangkan gagasan. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak tepat dapat membuat pelajar terbiasa mengambil jalan pintas. Misalnya, langsung meminta AI memberikan jawaban tugas atau soal tanpa terlebih dahulu berusaha memahami materi dan proses penyelesaiannya.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, teknologi yang seharusnya membantu proses belajar justru dapat membuat seseorang semakin pasif dalam berpikir. Kemampuan untuk mencari, memeriksa, menganalisis, dan menyimpulkan informasi secara mandiri bisa tidak terasah dengan baik. Begitu pula dengan kebiasaan memeriksa kembali informasi yang diberikan AI, karena tidak semua jawaban yang dihasilkan AI otomatis valid dan sesuai dengan fakta.
Karena itu, bagi saya, pembicaraan tentang AI tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini membawa dampak positif atau negatif. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat menggunakannya secara bijak. Dari pemikiran inilah AI Storytelling Workshop saya hadirkan, dengan memperkenalkan AI bukan sekadar sebagai alat untuk mendapatkan jawaban, tetapi sebagai teknologi yang dapat membantu pelajar mengembangkan kreativitas, mengolah gagasan, dan menghasilkan karya.
Dalam workshop tersebut, peserta belajar bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi cerita, kemudian diterjemahkan ke dalam konten visual berupa video yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan di ruang digital, termasuk TikTok, Reels, dan YouTube Shorts.
Beberapa pelajar yang mengikuti kegiatan terlihat begitu antusias. Mereka mencoba, bertanya, mengeksplorasi, dan perlahan menemukan cara mereka sendiri dalam memanfaatkan teknologi. Hal yang paling menggembirakan bagi saya justru terlihat setelah pelatihan selesai. Beberapa peserta mulai mencoba membuat karya video dengan memanfaatkan AI, kemudian membagikan hasilnya melalui media sosial.
Karya-karya tersebut mungkin masih menjadi langkah awal. Namun, justru di situlah letak nilai pentingnya. Mereka tidak berhenti pada tahap "sudah pernah mengikuti pelatihan", tetapi mulai membawa pengetahuan yang diperoleh ke dalam proses berkarya.
Bagi saya, inilah salah satu ukuran keberhasilan sebuah pelatihan: bukan hanya seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi apakah setelahnya seseorang menjadi lebih berani mencoba, mengeksplorasi, dan menciptakan sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat.
Teknologi tanpa kreativitas hanya akan menjadi alat. Sebaliknya, kreativitas tanpa kemampuan memahami teknologi juga dapat membuat seseorang kesulitan beradaptasi ketika dunia terus berubah. Karena itu, generasi muda hari ini membutuhkan keduanya: kemampuan berpikir sekaligus kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Melalui pelatihan semacam ini, saya berharap dapat turut mendorong lahirnya generasi yang cerdas secara digital, mampu menggunakan teknologi, tetapi tetap berpikir kritis; kreatif, tetapi bertanggung jawab; mampu beradaptasi, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang layak diciptakan dan untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.

