![]() |
| Merawat Bumi dari Halaman Rumah, Rabu (24/6) di Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang. |
Warga Pauh Perkuat Gaya Hidup Ramah Lingkungan Hadapi Perubahan Iklim
Padang, Sumatera Barat – Masyarakat RT 03 RW 04 Koto Tuo, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang mengikuti kegiatan Penguatan Kapasitas Mengenai Kehidupan Ramah Lingkungan untuk Mengurangi Risiko Bencana dan Perubahan Iklim pada Rabu (24/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga dalam menerapkan pola hidup yang lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi Berbagai Unsur Masyarakat
Kegiatan yang difasilitasi LP2M (Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat) Sumatera Barat ini berada di bawah penanggung jawab Fifi Alfiah (Felmi Yetti - Direktur LP2M). Selain masyarakat setempat, kegiatan juga melibatkan berbagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dan kebencanaan.
Sebanyak 33 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari dua orang perwakilan LP2M Sumatera Barat, satu orang dari FKPAR Padang, delapan orang dari MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia), serta anggota kelompok dampingan LP2M yang terdiri dari Kelompok Suko dan Kelompok Bunga Setangkai.
Kelompok Dampingan Jadi Penggerak
Dua kelompok dampingan LP2M, yaitu Kelompok Suko yang beranggotakan 14 orang dan Kelompok Bunga Setangkai dengan delapan anggota, menjadi peserta utama dalam kegiatan ini. Keduanya diharapkan menjadi motor penggerak penerapan praktik hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat.
Pembukaan kegiatan dipimpin oleh Fifi Alfiah selaku staf lapangan LP2M. Dalam arahannya, peserta didorong untuk berbagi pengalaman dan praktik-praktik kehidupan sehari-hari yang mendukung pelestarian lingkungan sehingga dapat menjadi inspirasi bagi anggota kelompok lainnya.
Pentingnya Menyehatkan Tanah
Pada sesi materi, fasilitator Ali Akbar menjelaskan bahwa kesehatan tanah merupakan kunci utama keberhasilan pertanian berkelanjutan. Menurutnya, penggunaan pupuk organik cair dan pupuk organik padat dapat memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan kesuburan tanaman.
Selain berdiskusi, peserta juga menyusun sejumlah rencana aksi yang akan dikembangkan setelah kegiatan. Beberapa program yang menjadi prioritas antara lain pembuatan Jakaba, produksi pupuk organik padat, pengolahan hasil pertanian berbasis bengkuang, serta pembuatan teh kombucha.
Membangun Ketangguhan dari Tingkat Komunitas
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki rencana nyata untuk diterapkan di lingkungan masing-masing. Upaya sederhana yang dimulai dari tingkat komunitas diharapkan dapat memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana sekaligus mendukung pelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (IDe)


