![]() |
Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Padang Pariaman
Judul di atas adalah konklusi penulis buat ketika selaku Ketua Yayasan Islamic Centre dan Ketua STIT Syekh Burhanuddin Pariaman melakukan diskusi bersama Wakil Rakyat Sumatera Barat Anggota DPR RI dapil 2 Komisi 13 H. Arisal Aziz bakda Jum'at 08 Mei 2026 di Kampung Dalam Padang Pariaman Sumatera Barat.
Jejak rekam kehidupan perantau Minang di Pekanbaru ini, perjuangannya mengapai sukses dalam bisnis, dan lika liku diminta masyarakat menjadi anggota DPR RI dan diberi kepercayaan suara terbanyak adalah kisah inspiratif yang hendaknya diketahui generasi muda yang tengah menemukan jati diri.
Penulis menjadi terkesan setiap kali ia bicara soal Islam selalu bertanya apakah pendapatnya benar? Pengakuannya mendapat hidayah disampaikan setelah usia 40 tahunan.
Ia berkisah setelah sukses bisnis dari bawah ia mengalami suasana jiwa tak tenang. Setelah bertanya pada banyak ulama ia menyimpulkan menyerahkan lebih separoh hartanya untuk umat, mulanya 106 mobil di infaqkan, mendirikan masjid, membantu anak yatim, kini 60 persen saham perusahaan untuk membela rakyat, kini ia nyaman dan senang memberi.
FIGUR PEMBELA RAKYAT
Sumatera Barat sesungguhnya bukan daerah miskin potensi. Alamnya kaya, masyarakatnya religius, tradisi intelektualnya kuat, dan budaya merantaunya telah melahirkan banyak tokoh nasional. Namun di tengah semua kelebihan itu, muncul pertanyaan yang mulai sering terdengar di ruang-ruang diskusi masyarakat: mengapa Sumatera Barat terasa berjalan lambat?
Dua dekade reformasi belum sepenuhnya mampu membawa lompatan besar bagi daerah ini. Banyak pengamat menilai pembangunan berjalan stagnan. Bahkan ada suara yang lebih tajam: pemimpin ada, tetapi tidak cukup kuat menggerakkan potensi besar yang dimiliki Sumatera Barat. Sebagian kekuatan ekonomi yang dulu dibanggakan justru melemah. Beberapa BUMD runtuh, sektor usaha rakyat bergerak lambat, dan generasi muda banyak yang kehilangan arah serta peluang.
Di sisi lain, masyarakat juga sedang menghadapi ancaman sosial yang serius. Tawuran pelajar, narkoba, judi online, kekerasan digital, hingga perilaku menyimpang yang bertentangan dengan nilai agama semakin sering menjadi pembicaraan publik. Surau yang dahulu menjadi pusat pembinaan moral perlahan kehilangan pengaruhnya. Keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan arus digitalisasi yang begitu kuat.
Padahal Sumatera Barat dibangun di atas falsafah besar: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ini bukan sekadar slogan budaya, tetapi fondasi peradaban. Karena itu daerah ini tidak cukup dipimpin oleh sosok yang hanya pandai berbicara atau membangun pencitraan. Sumatera Barat membutuhkan pemimpin amanah, berjiwa wirausaha, dan benar-benar membela masyarakat.
Amanah adalah fondasi utama kepemimpinan. Kekuasaan tanpa amanah hanya akan melahirkan ketidakpercayaan publik. Pemimpin amanah bukan hanya jujur dalam ucapan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap penderitaan rakyat. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri atau kelompok, melainkan sebagai sarana pengabdian.
Al-Qur’an mengingatkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa’: 58)
Namun hari ini amanah saja tidak cukup. Sumatera Barat juga membutuhkan pemimpin berjiwa wirausaha. Ranah Minang sejak dahulu terkenal sebagai masyarakat pedagang dan perantau. Tradisi merantau melahirkan karakter mandiri, tahan menghadapi kesulitan, kreatif membaca peluang, dan berani mengambil risiko.
Karena itu, pemimpin yang memiliki pengalaman usaha biasanya lebih memahami denyut ekonomi rakyat. Ia tahu bagaimana sulitnya mencari modal, mempertahankan usaha kecil, menghadapi persaingan, dan membuka lapangan kerja. Pemimpin seperti ini tidak hanya berpikir administratif, tetapi berpikir produktif dan solutif.
Sumatera Barat membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan: UMKM, ekonomi pesantren, perdagangan rakyat, pertanian, pariwisata halal, serta ekonomi kreatif generasi muda.
Pemimpin yang memahami bahwa kesejahteraan masyarakat bukan lahir dari pidato panjang, tetapi dari ekonomi yang bergerak dan lapangan kerja yang terbuka.
Namun lebih penting dari semuanya adalah keberanian membela masyarakat. Rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir ketika mereka susah, bukan hanya ketika membutuhkan suara politik. Pemimpin yang mau turun mendengar keluhan petani, pedagang kecil, nelayan, guru, santri, dan anak-anak muda yang kehilangan harapan.
Pemimpin pembela masyarakat tidak menjaga jarak dengan rakyat. Ia hidup bersama denyut persoalan masyarakat dan menjadikan kekuasaan sebagai alat memperjuangkan kepentingan umum.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Hari ini Sumatera Barat membutuhkan keberanian baru dalam kepemimpinan. Bukan sekadar pergantian figur, tetapi perubahan cara berpikir. Pemimpin yang religius, kuat memegang amanah, memahami ekonomi rakyat, dan ikhlas mengabdi.
Sebab masa depan Sumatera Barat tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh kualitas moral, keberanian bekerja, dan ketulusan pemimpinnya dalam membela masyarakat. DS.08052026.

