![]() |
| Wisuda UIN Imam Bonjol Padang. |
Oleh: Duski Samad
STP#series#98.18042026
Wisuda sering kali dipahami sebagai akhir dari perjalanan akademik. Padahal sesungguhnya, ia adalah titik awal memasuki realitas kehidupan yang jauh lebih kompleks. Rektor dalam sambutannya mengingatkan: wisudawan harus menjadi insan solutif, transformatif—khalifah—dan teladan dalam tindakan. Pesan ini tampak normatif, tetapi jika dibaca lebih dalam, ia mengandung satu tuntutan besar: cara berpikir yang tidak lagi parsial, tetapi menyeluruh. Di sinilah relevansi apa yang dapat kita sebut sebagai ontologi massif.
Ontologi massif bukan sekadar istilah filsafat, tetapi cara pandang hidup. Ia mengajak kita melihat realitas bukan sebagai potongan-potongan kecil yang terpisah, melainkan sebagai jaringan besar yang saling terhubung. Dunia hari ini tidak lagi bisa dibaca secara sederhana. Masalah kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pendidikan, budaya, dan bahkan spiritualitas. Konflik sosial bukan hanya soal peristiwa, tetapi soal ketimpangan struktur dan krisis nilai.
Wisudawan yang hanya berpikir linier akan mudah tersesat dalam kompleksitas ini. Mereka melihat tanah sebagai aset, jabatan sebagai prestise, dan ilmu sebagai gelar. Tetapi wisudawan dengan kesadaran ontologi massif akan melihat lebih jauh: tanah adalah identitas dan marwah, jabatan adalah amanah, dan ilmu adalah tanggung jawab peradaban.
Di sinilah makna menjadi khalifah menemukan konteksnya. Khalifah bukan sekadar pemimpin formal, tetapi manusia yang mampu membaca realitas secara utuh dan bertindak dengan kesadaran nilai. Ia tidak hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi memahami akar dan dampaknya secara luas. Ia tidak sekadar hadir dalam sistem, tetapi mengubah sistem itu menjadi lebih adil dan bermakna.
Dalam Islam, cara pandang ini sejatinya sudah lama diajarkan. Al-Qur’an tidak pernah melihat manusia sebagai makhluk individual semata, tetapi sebagai bagian dari tatanan kosmik dan sosial. Setiap tindakan memiliki implikasi, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Setiap keputusan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada masyarakat dan generasi mendatang. Inilah ontologi dalam makna paling dalam: kesadaran akan keterhubungan seluruh realitas.
Masalahnya, banyak lulusan perguruan tinggi hari ini justru terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai “ontologi sempit”. Mereka terdidik secara teknis, tetapi miskin makna. Mereka cerdas secara intelektual, tetapi tumpul secara moral. Mereka mampu menjawab soal, tetapi gagal menjawab persoalan kehidupan.
Akibatnya, ilmu tidak lagi menjadi cahaya, tetapi alat. Jabatan tidak lagi menjadi amanah, tetapi kesempatan. Dan pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses pembentukan manusia.
Karena itu, wisuda harus dimaknai sebagai transformasi cara berpikir. Dari melihat dunia secara fragmentaris menuju pemahaman yang utuh. Dari sekadar menjadi pekerja sistem menuju agen perubahan. Dari manusia yang hanya “hidup” menjadi manusia yang “menghidupkan”.
Ontologi massif menuntut keberanian intelektual sekaligus kedalaman spiritual. Ia tidak cukup dengan logika, tetapi juga membutuhkan hikmah. Ia tidak cukup dengan data, tetapi juga memerlukan nurani. Dalam bahasa Minangkabau, ini sejalan dengan falsafah: alam takambang jadi guru—bahwa realitas harus dibaca secara luas, tidak sempit, tidak sepotong-sepotong.
Jika para wisudawan mampu membawa kesadaran ini, maka mereka tidak hanya akan menjadi sarjana, tetapi menjadi penjaga peradaban. Mereka tidak hanya akan mencari solusi, tetapi menciptakan arah. Mereka tidak hanya akan mengikuti arus zaman, tetapi menentukan arah zaman itu sendiri.
Akhirnya, wisuda bukanlah selebrasi gelar, tetapi deklarasi tanggung jawab.
Dan ontologi massif adalah panggilan:
untuk melihat lebih luas, berpikir lebih dalam, dan bertindak lebih bermakna. DS.

