![]() |
| Kepala Kementerian Haji dan Umrah Padang Pariaman, H. Adri Ahmad mengantar jemaah calon haji sampai pintu langit. |
Padang Pariaman - Langit masih gelap ketika langkah-langkah itu terdengar lirih di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang berada di Nagari Katapiang, Padang Pariaman itu. Pukul 01.05 WIB, Rabu dini hari (29/4/2026), 223 jemaah calon haji asal Padang Pariaman bergerak pelan menuju pesawat Garuda Indonesia GA3505.
Tak ada sorak, tak ada gegap gempita, hanya mata yang berkaca-kaca dan dada yang penuh getar. Seolah setiap langkah adalah perpisahan yang tak ingin benar-benar terjadi.
Di antara kerumunan, tangis pecah tanpa suara. Bukan karena takut menghadapi perjalanan jauh, tetapi karena sadar. Ini bukan perjalanan biasa. Ini panggilan suci yang tak semua orang diberi kesempatan untuk menjawabnya.
Sebagian menggenggam erat tas kecilnya, sebagian lain menatap kosong ke arah landasan, mencoba menahan haru yang tak lagi terbendung.
Kloter 5 Embarkasi Padang membawa 393 jemaah, gabungan dari Padang Pariaman dan Bengkulu, terdiri dari 164 laki-laki dan 229 perempuan.
Namun di balik angka itu, tersimpan ratusan kisah. Doa yang dipendam bertahun-tahun, penantian panjang, hingga pengorbanan yang tak terucap. Malam itu, semuanya melebur menjadi satu, menjadi perjalanan spritual menuju berharap ridhoNya Allah.
Di ujung antrean, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Adri Ahmad masih bertahan. Matanya tak lepas mengawasi.
Ia bukan sekadar melepas, ia memastikan tak ada yang tertinggal baik dokumen maupun kesiapan hati. Bahkan ketika seorang jemaah memohon agar ia ikut hingga ke Makkah, permintaan itu terdengar seperti jeritan halus. Jangan biarkan kami berjalan sendiri di jalan sebesar ini.
Semua proses itu berawal dari usai shalat subuh, Selasa (28/4/2026) yang tenang di Masjid Raya IKK Ali Mukhni di Kawasan Perkantoran Pemda Padang Pariaman.
Dari lantunan doa, perjalanan berlanjut ke Asrama Haji, mereka melewati pemeriksaan kesehatan, pembagian gelang identitas, paspor, hingga living cost 750 riyal. Setiap tahapan terasa seperti lapisan demi lapisan yang mengupas dunia, menyisakan satu hal. Kesiapan jiwa untuk berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Bupati John Kenedy Azis melepas secara resmi, telah mengingatkan dengan nada yang tak main-main.
Haji bukan seremoni, bukan rutinitas tahunan. Ia adalah panggilan jiwa yang tak bisa ditunda. Dari usia 22 hingga 86 tahun, para jemaah membuktikan satu hal. Iman tak pernah mengenal batas usia, hanya mengenal kesiapan untuk pulang kepada-Nya.
Dan ketika roda pesawat meninggalkan landasan, yang tertinggal bukan sekadar lambaian tangan keluarga. Ada doa yang menggantung di udara, ada harapan yang dititipkan pada langit.
Dari total 251 jemaah Padang Pariaman tahun ini, 223 telah berangkat bersama Kloter 5, sementara 28 lainnya menyusul di Kloter 14 pada 8 Mei 2026.
Mereka pergi membawa nama daerah, membawa harapan banyak orang, dan meninggalkan satu pesan sunyi. Bahwa setiap langkah spritual menuju Tuhan selalu dimulai dengan keikhlasan yang paling dalam. (srisyah)

