Type Here to Get Search Results !

Menjaga Persahabatan dan Persaudaraan

Oleh Anto Narasoma

SECARA religiusitas 

di dalam sastra, persahabatan dan persaudaraan itu ibarat mutiara yang berkilau memikat hati.

Maka, terkait masalah itu, eksistensinya perlu dijaga dengan akhlak mulia, sehingga kebersamaan kita dalam persahabatan itu, dapat menciptakan nilai-nilai indah yang saling pelihara dengan hati nurani --sebening mata air di pegunungan.

Rasulullah SAW bersabda, ..._*Tidak beriman di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri*_ (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu dalamnya nilai rasa yang diraba dari hati kita yang bersih. Sebab, menjaga nilai persahabatan itu tidak diukur dari kepentingan tertentu secara egoistis, tapi dengan rasa dan kebersamaan.

Ini menunjukkan betapa pentingnya meraba perasaan diri sendiri, sehingga kita mampu memberikan kasih dan sayang bagi sahabat kita di dalam persaudaraan itu.

Sebagai manusia yang berkualitas baik, arti persahabatan dalam kaitan pertemanan, adalah persaudaraan seiman, seagama, dan seperjalanan.

Terkait dengan nilai seperjalanan, kaidah paling hakiki adalah cara pandang dan cara berpikir yang selaras tapa ada kepentingan tertentu.

Orang yang sudah masuk ke dalam katagori pemikiran seperti itu, akan siap membantu sahabatnya tanpa berpikir untung ruginya dalam kebersamaan mereka (persahabatan).

Kadar inilah yang sangat sulit ditafsirkan oleh mereka yang semata-mata berpikir untung ruginya dalam persahabatan yang sudah terjalin di antara mereka selama ini.

Karena itu, menjalin dan menjaga perrsahabatan itu sangat penting. Artinya, untuk menjaga konsistensi nilai persahabatan yang sudah terjalin selama ini, kita harus saling menghormati, menyayangi, dan membantu satu dengan yang lainnya. Hal itu dikakukan sesuai anjuran dari Al-Quran dan Hadist.

Yang paling utama adalah menjaga ungkapan mulut dan tingkah laku agar tidak melukai perasaan yang menyakitkan sahabat kita.

Kita bisa memulai hal-hal baik dengan saling memberi salam dengan sikap yang santun, serta berbagi kebaikan dengan orang yang membutuhkan pertolonganmu.

Menolong seorang sahabat ketika ia berada dalam kesulitan, tidak harus dengan nilai uang. Masih banyak celah lain yang dapat menyelamatkan mereka dari tingkat kesulitan yang dihadapi.

Harus kita akui, tak ada perilaku manusia yang sempurna. Dalam progres kehidupan sehari-hari, kita kerapkali melihat berbagai kelemahan sehabat kita. Apakah kita harus marah dengan cara mencaci-maki terhadap mereka?

Jika ini terjadi, maka kita telah menciptakan persoalan yang salah. Seolah-olah diri kita itu satu bentuk jiwa yang sempurna, sehingga kita melukai perasaannya.

Padahal, kesadaran moral (satu kelebihan) yang ada di dalam diri kita itu hanya "titipan" Allah SWT yang harus kita kelola untuk membantu dan menjaga nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan di antara kita.

Memang, untuk menjadi manusia sejati yang mengerti dengan nilai-nilai baik tersebut, kita harus memiliki kesadaran dan kesabaran yang bernilai tinggi.

Sebab, ketika kita sudah berada dalam fase seperti itu, maka hal utama yang kita lakukan adalah menjaga lisan (ucapan) dengan tingkatan emosi yang tertata secara bijak.

Lalu, bagaimana kita harus menata nilai-nilai kemanusiaan agar kita dapat menjaga dan menghargaai pribadi orang lain?

Jawabnya, harus mengenal pribadi orang lain secara utuh, tanpa membuka sikap buruk yang ada di diri mereka.

Dengan mengenal dan menguasai eksistensi sahabat kita itu, maka secara bijak kita akan menerima kehadiran mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ini membutuhkan kebersihan hati yang bijak dengan nilai kesadaran diri yang tinggi.

Lantas, apakah kita harus marah dan dendam terhadap teman yang telah melukai perasaaan kita?

Kalau kita dendam dan marah setelah menerima cacian dan ucapan yang menyakitkan itu, maka kita harus bertanya ke diri sendiri, apakah kita sudah mengenal diri kita sendiri?

Memang, kunci untuk membangun strata kebijaksanaan yang ada di diri kita itu adalah diri kita sendiri. Andaikan kita sudah mampu bersikap bijak, maka kita akan tersenyum ketika disakiti oleh sahabat kita.

Islam mengajarkan kita untuk selalu menata dan memperbaiki perilaku kita setiap hari. Namun tentu saja harus dilandasi dengan kesadaran moral sepenuhnya.

Itu artinya, sebelum kita menerima perbaikan jiwa sahabat atau teman kita, yang paling utama adalah bagaimana kita mampu memperbaiki moral dan akhlak diri kita sendiri. Sebab landasan utama untuk menciptakan persabatan dan persaudaraan antarkita adalah peningkatan kualitas akhlak dan ketinggian nilai moral diri kita sendiri.

Apakah selalu salat dan membaca Al-Quran di masjid setiap hari sudah menentukan bahwa kita itu sudah menjadi orang baik? Belum tentu !

Banyak dari mereka yang bergelar kiai atau ustadz, faktanya tidak memahami kondisi orang lain. Justru perilakunya kerap kali menyakiti orang lain.

Masjid adalah rumah Allah. Masjidlah tempat kita untuk menata diri agar menjadi lebih baik. Tapi landasan untuk mencapai kebaikan itu, kita harus amanah.

Dengan sikap amanah, sayang dengan antarsesama, dan selalu berdoa bagi kebaikan sesama, maka kita akan memperoleh rahmat dari Allah SWT untuk menciptakan kebaikan di dalam diri kita.

Orang yang baik itu memiliki akhlak dan moral yang selalu menghargaan orang lain. Seberapa buruknya perilaku orang lain terhadap dirinya, ia tidak akan membalas dan mengendapkan perasaan dendam di hatinya. Ia akan ikhlas ketika disakiti.

Allah SWT tidak akan tersenyum melihat kualitas salat kita. Allah juga tak akan tertawa gembira melihat kita melaksanakan perintah berpuasa.

Tapi, disaat kita menjaga tapi persahabatan dan persaudaraan antarkita, Allah SWT akan menganugerahkan kita kebahagiaan surgawi. Sebab, di mata Allah, sepotong diri kita itu sangat berguna bagi kemaslahatan orang lain (orang banyak).

Meskipun sebagai penulis artikel ini sudah saya ungkap beberapa bahan perbincangan untuk memperbaiki akhlak, namun sebagai manusia dhoif, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang baik.

Misalnya, berusaha untuk jujur dan amanah ketika dipercaya melaksanakan sesuatu. Kemudian berusaha untuk menghormati dan menyayangi teman dan sahabat. Membantu mendukung karir seseorang, serta memaafkan kesalahan teman dan berlapang dada untuk menerima perilaku buruk orang lain.

Prinsip-prinsip yang saya ungkap di atas dapat dijadikan panduan untuk menjaga persahabatan dan persaudaraan kita.

Menghargai tali persaudaraan dan persahabatan itu dapat kita lakukan secara sederhana. Misalnya, memberi perhatian dan empati kepada sahabat kita. Jika ia membantu kita, jangan lupa mengucapkan terima kasih yang ikhlas dan selalu siap jika kita dibutuhkannya.

Allah SWT berfirman :.._Langkah pertama membangun persahabatan yang kokoh adalah memilih teman yang baik, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, dengan mengharap keridhaan-Nya_ (QS Al-Kahfi ayat 28).

Terkait harus menjaga nilai persahabatan dan persaudaraan inilah saya mencoba untuk terus memperbaiki akhlak dan moralitas pertemanan dalam pergaulan sehari-hari.

Misalnya untuk menyayangi dan saling menghormati satu dengan yang lainnya. Sebab nilai terbaik untuk memperbaiki akhlak adalah mengaca diri lewat ajaran agama dan contoh teladan dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. (*)

*Penulis adalah sastrawa, seniman, dan jurnalis senior*

Palembang, 21 Februari 2026

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.