![]() |
Oleh Mila Muzakkar
(Puisi esai ini terinspirasi dari kisah YBR, anak 10 tahun yang mengakhiri hidupnya di kebun cengkih, NTT) (1)
Hari baru saja membuka matanya.
Mentari turun perlahan,
menyapa dedaunan yang masih basah
oleh sisa tangis hujan semalam.
Namun tak semua pagi membawa terang.
Di sudut kecil bumi,
awan pekat lebih cepat tiba,
sepekat hari Yabo, bocah sepuluh tahun itu.
Di depan gubuk sempit,
yang bahkan angin pun sering ragu singgah,
ia duduk diam bersama nasibnya.
Hanya ia dan nenek renta
yang saling menguatkan
dalam dunia yang sering lupa mereka ada.
“Mau bayar pakai apa ya?
Bagaimana kalau saya dikeluarkan dari sekolah?” bisiknya dalam hati.
Pertanyaan sederhana,
namun beratnya melebihi usia sepuluh tahun.
Dari dapur, nenek memanggil,
suara yang mencoba tetap hangat:
“Yabo, ayo makan sama-sama.”
Di atas tikar lusuh,
di papan bambu sederhana,
sepotong ikan asin tergeletak,
ditemani nasi jagung dan sambal cabai.
Menu yang tak pernah berubah,
bukan karena cinta pada rasa,
melainkan karena hidup
tak selalu memberi pilihan.
“Nenek, Bu Guru bilang saya harus bayar uang sekolah.
Sudah setahun saya belum bayar.”
Kalimat itu membuat pagi mendadak sunyi.
Ikan asin terasa makin asin di tenggorokan nenek.
Nasi jagung terasa getir ditelan.
Ia ingin menjawab,
namun kemiskinan sering membungkam kata.
Dengan senyum yang dipaksakan, ia berkata:
“Nanti nenek carikan uangnya ya.
Kamu sekolah saja yang rajin.”
Padahal ia tahu,
janji itu lebih rapuh
dari dinding gubuk mereka.
***
Hari-hari berikutnya terasa lebih kelabu.
Cahaya mentari seperti memilih alamat lain.
Kadang terasa terang hanya singgah
ke rumah-rumah elit di kota,
tempat masa depan bisa dinegosiasikan
dengan uang dan koneksi.
Namun Yabo tetap berangkat sekolah.
Seragam sederhana, sandal jepit,
dan mimpi yang tak pernah ia lepaskan.
Katanya, sekolah adalah jalan keluar.
Katanya, semua anak punya kesempatan sama.
Katanya, masa depan ditentukan kerja keras.
Tapi realitas sering menertawakan slogan itu.
Ada yang melesat jauh
tanpa harus berlari.
Ada yang cukup punya jaringan,
cukup punya uang, cukup punya “orang dalam”.
Dan anak-anak seperti Yabo
sering hanya kebagian janji.
Suatu pagi, suara Yabo kembali lirih:
“Nenek, saya butuh buku dan pulpen baru.
Yang lama sudah habis.”
Pelukan nenek menjawab lebih dulu.
Air mata jatuh diam-diam
di seragam sekolah cucunya.
“Maafkan nenek, Yabo…
Nenek tidak punya uang.”
Tangis yang selama ini tertahan
akhirnya pecah.
Tangis seorang anak
yang terlalu cepat mengenal kerasnya hidup.
Tak lama ia melangkah keluar.
Tak ke sekolah.
Hanya ke kebun kecil di samping gubuk,
tempat pohon-pohon cengkih tumbuh subur,
seolah dunia tak pernah kekurangan apa pun.
Langit makin gelap.
Petir sesekali menggelegar.
Seperti peringatan yang terlambat dibaca.
Mungkin pagi itu
Yabo merasa dunia terlalu luas
untuk anak sekecil dirinya.
Dan ia memilih pergi.
Lehernya ia pasrahkan pada pohon cengkih, yang tumbuh subur disamping gubuknya.
Anak itu meninggalkan catatan singkat
untuk ibunya:
“Ibu, jangan cari saya ya.
Saya sudah pergi meninggalkan dunia.
Karena isi dunia tidak sayang
dan tidak bisa membantu saya.”
Kalimat polos itu lebih mengguncang
daripada pidato panjang para pemimpin.
Hujan deras membasahi desa-desa di Kabupaten Ngada, NTT.
Seolah hujan itu mengirim pesan kepada penghuni negeri ini, bahwa Yabo dan neneknya hidup sendiri.
Tak ada tetangga, bupati, gubernur, atau presiden di negeri ini.
Jakarta, 13 Februari 2026
CATATAN KAKI
(1) https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8339759/siswa-sd-yang-gantung-diri-di-pohon-cengkih-ternyata-tak-dibelikan-buku-pulpen
(2) https://www.kompas.id/artikel/angka-percobaan-bunuh-diri-remaja-meningkat-hampir-tiga-kali-lipat

