Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Mengembalikan Kekuatan Adat dan Budaya

Podcast Padang Pariaman bicara membahas soal nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Globalisasi yang merambah kehidupan saat ini, tak pelak lagi ikut membuat nilai-nilai adat dan budaya tergerus.

Apa pasal. Adat itu kuat dan menjadi kekuatan tersendiri di tengah masyarakat. Kok bisa kena hantam oleh arus globalisasi yang ditandai dengan digitalisasi?

Kekuatan adat, dan malah jadi sebutan di tengah masyarakat, bahwa adat itu tak lapuk oleh hujan tidak lekang kena panas.

Rabu, 20 September 2023, Afrianto Datuak Maninjun, seorang tokoh pemuda sekaligus niniak mamak di kaumnya, Mak Itam, salah seorang cadiak pandai masyarakat Sicincin, dan Utiah Rajab, tokoh tua belum muda terlampau membersamai Podcast Padang Pariaman di MCS Pauh Kambar.

Perubahan pola pikir yang berkembang di tengah masyarakat, juga menjadi bagian dari pergeseran nilai-nilai adat dan budaya tersebut.

Dan lagi, adat dan budaya, katakan adat salingka nagari, masih sebuah kekuatan yang mengambang.

Mak Itam yang saban hari berkecimpung di tengah masyarakat, merasakan betapa pergeseran itu sudah menganga besar.

"Yang menjadi titik lemahnya, adalah pokok bahasan "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah". Artinya, sandi ini yang mesti diperbaiki, agar adat yang bersumber dari agama kembali kuat," kata dia.

Afrianto Datuak Maninjun yang juga caleg DPRD Padang Pariaman dari Golkar ini menilai, bahwa kesebandingan antara hukum adat dengan undang-undang dan hukum agama, searah dan setujuan.

"Hanya, aplikasinya yang kadang-kadang membuat salah satunya tergerus, bila dalam menyikapi suatu masalah secara mendalam," katanya.

Kekuatan hukum adat, katanya, diakui oleh negara. "Barangkali kekuatan ini yang perlu kembali diperkuat, lewat regulasi dan aturan, sehingga adat dan budaya kita kokoh sampai pada pelaksanaannya," ulas dia.

Untuk ini, kajian adat yang dulunya sering dan menjadi kegemaran anak muda di surau, barangkali perlu dipertahankan dan ditingkatkan.

Utiah Rajab mencoba mendobrak itu dari dirinya sendiri. Perubahan yang drastis saat ini, memang patut dikaji ulang.

"Semua perubahan, saling bersangkut, yang dasarnya adalah akhlak, moral dan etika," ulas Utiah Rajab.

Dia melihat, anggota dewan yang dihasilkan dari Pemilu Februari tahun depan, harus dari orang yang mengerti adat, tahu dengan syarak, mengerti dengan undang-undang, sehingga mampu menyuarakan seluruh aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

Sumbar dan Padang Pariaman adalah daerah adat. Adat bersumber dari agam, sementara agama sumbernya dari kitabullah.

Terjadinya kerusakan saat ini di banyak generasi, dan rusaknya perekonomian masyarakat pun, karena rusaknya akhlak dan moral itu sendiri.

Ada pun pembinaan adat dan budaya oleh pemerintah untuk suatu nagari, tetapi tidak maksimal. Asal jadi dan asal kegiatan jalan.

Sebagai daerah adat dan berbudaya, seperti Padang Pariaman butuh kekuatan ini kembali. Kekuatan adat dan budaya yang mulai bergeser, yang dinilai lemah saat ini, harus dikuatkan kembali.

Karena adat dan budaya itulah hadirnya perekonomian yang berpihak kepada masyarakat. Hadirnya generasi yang punya etika dan moral.

Masing-masing komponen di tengah masyarakat, kembali tegak dengan wibawanya. Sekarang, terkesan hampir sama datar saja sawah dengan pematangnya. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies