Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Bencana Akibat Kelakuan Kita

Jembatan Kayu Gadang yang rusak kembali. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Hujan deras sepanjang Sabtu dan Minggu, (6-7/5/2023) menyebabkan sejumlah bencana alam. Jembatan Kayu Gadang ambruk alias sebuah lantainya terban ke sungai.

Jembatan ini baru dua tahun selesai dibangun lewat anggaran APBN. Bencana lainnya, banjir di mana-mana. Wilayah yang jadi langganan banjir, adalah Ulakan Tapakis, Sintuak Toboh Gadang, Kampung Dalam, dan sebagian di wilayah timur Lubuk Alung.

Dari dulu, Padang Pariaman terkenal dengan etalasenya bencana. Daerah ini kerap kena bencana. Belum ada solusi dari pemerintah untuk mengurangi risiko bencana ini, meski Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah ada sejak lama.

Memang itu takdir dari Yang Maha Kuasa. Manusia boleh berikhtiar dan bahkan dianjurkan untuk berusaha. Berusaha bencana itu kurang atau sama sekali terhindar dari daerah.

Pesan Tuhan dalam Quran, bencana atau musibah dan bala itu turun tersebab oleh kelakuan manusia. Manusia sudah semakin kurang mengindahkan perintah dan larangan agama, jauh dari iman dan taqwa, maka bencana sering menghantui suatu kampung atau daerah.

Apa yang disampaikan Quran itu benar adanya, dan itu janji Tuhan, tidak dapat tidak. Gempa tiap sebentar. Meski tidak di daerah ini pusatnya, goyangannya cukup membuat masyarakat Padang Pariaman panik dan takut.

Banjir tiap hujan lebat. Habis sawah petani yang terkena itu dilanyaunya. Begitu juga kebakaran.

Tak heran, orang tua-tua dulu bicara, dima ada kebaikan, di situ kejahatan pun merajalela. Dimana ada Muhammad di situ Abu Jahil pun bekerja.

Disebut demikian, Padang Pariaman tersebut sebagai daerah yang kaya akan ulama. Di daerah ini banyak surau. Tiap kaum dan korong punya surau, tetapi kegiatan pengundang bala dan bencana itu juga marak di sini.

Dengar saja sehabis Ramadhan ini, dentuman orgen saling bersahutan. Di tengah malam. Yang dekat rumahnya orgen itu, tak bisa tidur. Bahkan saking kuatnya bunyi orgen, rumah tetangga bisa punah. Kaca rumah bisa hancur akibat dentuman orgen yang keras dan kuat.

Tengah malam bahkan sampai Subuh, tak mungkin hanya sekedar orgen itu saja. Pasti terjadi saweran, pesta miras, dan menghilang norma adat dan kepatutan di tengah masyarakat itu sendiri.

Di sejumlah nagari orgen sampai tengah malam dilarang. Ya, kita hargai dan hormati. Sanksinya, tak naik niniak mamak bila dilanggar oleh masyarakat yang berpesta.

Seperti di Nagari III Koto Aur Malintang Timur. Di sini diberlakukan aturan orgen tak boleh ber-DJ. Bila ditemukan, pihak berkepentingan dalam alek, seperti niniak mamak, alim ulama, dan pemerintah nagari tidak akan hadir.

Nah, aturan ini masih bersayap. Artinya, orgen boleh dalam pesta tapi tidak dengan musik DJ. Ini tentunya akan mudah saja bagi masyarakat, terutama anak muda untuk mengelabuinya, melabrak itu aturan yang dibuat. 

Beberapa waktu lalu, sempat ada aturan orgen bolehnya sampai jam 00.00. wib. Lewat dari itu ditegakkan aturan. Tapi ini tidak jalan. Bahkan kini orgen tengah malam kian menggila.

Kita patut belajar banyak dari musibah gempa besar tahun 2009 yang memunahkan daerah, menghancurkan sendi kehidupan, menghilangkan ratusan nyawa. Jadikan itu pelajaran bersama, untuk kembali ke akar budaya dan adat kita. Minangkabau jangan hanya tinggal terkenal saja adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Jangan hanya semboyan, tetapi ada aplikasi dan aktualisasinya di tengah masyarakat.

Para niniak mamak, alim ulama mari kita kuatkan fungsi dan tanggungjawab moral kita selaku suluah bendang di tengah masyarakat. Sudah capek kita mengobarkan semboyan tanpa aplikasi dan aktualisasi.

Para pengusaha orgen yang sudah meraup keuntungan, jangan hanya memikirkan perut dan kehidupan dunia. Mari ikut berpikir masa depan, jauh ke muka, kehidupan yang baik dan damai, nyaman dan aman dari bala dan bencana.

Dari kacamata orang luar menyebutkan, bahwa orgen tunggal memang marak di Padang Pariaman. Termasuk orgen yang paka sawer. Mari kita tegakkan amar makruf nahi munkar, agar musibah dan bala berkurang. Jangan lagi musibah sebagai ancaman.

Namun, orgen sebagai seni tak pula kita habiskan. Tetapkan kita kembangkan, tetapi sesuai dengan kultur dan budaya kita. Budaya Minang yang kaya akan nilai-nilai, sopan santun, melihat rupa dan patut serta mungkinnya.

Tentu orgen bukan satu-satunya pengundang maksiat yang dinilai. Ada banyak perbuatan terlarang lainnya, yang kadang sudah jadi mentradisi di tengah kampung tersebut.

Cobalah berkeliling kampung pakai motor, perhatikan warung di kiri dan kanan jalan jalan bulan puasa, banyak yang buka, dan praktek judi serta makan bebas pecandu lapau terlihat dengan tanpa ada rasa malu dan segan.

Tentu ini juga bagian dari mengundang musibah, karena sebagian masyarakat bebas saja membuat dosa. Sudahlah mereka tidak puasa, makannya bebas pula, tanpa ada penghargaan pada orang yang sedang berpuasa.

Orang lapau dengan enaknya memasakan nasi lengkap dengan lauk pauknya, sepanjang permintaan dan tanpa dosa pula sepertinya. Dan situasi ini hampir tiap kampung di Padang Pariaman saya lihat sendiri.

Sesekali, siang di saat panas yang terik sehabis Zuhur, saya sengaja keliling di satu kampung, melihat situasi masyarakat di tengah Ramadhan yang berkah tentunya.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies