Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Masjid Raya Lubuk Idai

Masjid Raya Lubuk Idai. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com---Masjid Raya Lubuk Idai tetap dengan 20 rakaat Shalat Tarwih. Tak seperti kebanyak masjid dan surau, yang cenderung delapan rakaat Tarwih-nya.

Masjid yang terletak di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman ini tetap dengan warisan lama, yang diwarisi dari guru-guru dulunya.

Di masjid ini juga berkembang Tariqat Naqsyabandiyah. Tiap tahun ada masyarakat yang ikut suluk, sebagai wiridan di kalangan penganut pengajian ini. 

Dulu, masjid ini persis seperti lambang Perti. Karena di Padang Pariaman, di Koto Tinggi itulah pusatnya Tarbiyah. Di samping rutin shalat berjemaah tiap waktu, pengajian umum juga berlangsung tiap hari di situ, dengan guru dan penceramah yang selalu berganti. 

Begitu juga khutbah Jumat, juga khatibnya bergiliran. Bahasa Indonesia yang berisi pengajian, singkat, sesuai keilmuan dalam soal pelaksanaan shalat Jumat. 

Malam kedua Ramadhan 1444 H, saya dapat jadwal ceramah di masjid yang terletak di pinggir Sungai Batang Ulakan itu.

Jemaah lumayan ramai. Menurut Jamal Tuanku Sutan, tiap hari di bulan Ramadhan selalu buka bersama. Begitu pun shalat berjemaah juga tak pernah putus tiap waktu. 

Di sekeliling masjid ada sejumlah surau tempat masyarakat tidur. Terutama kaum perempuan yang sudah tergolong lansia, dan memilih tinggal di surau itu, tentunya bisa berjemaah tiap waktu shalat. 

Begitu pula kaum laki-laki yang tidak lagi punya istri tentunya, lebih memilih menghabiskan waktu di di lingkungan masjid tersebut. 

Dulu, di lingkungan masjid itu tempat asrama santri yang mengaji dan sekolah siangnya. Sekolah Tarbiyah Koto Tinggi ramai, terutama para santri yang melakukan dua pendidikan, mengaji dan sekolah. 

Nah, tradisi masjid hidup tiap waktu tak asing bagi Masjid Raya Lubuk Idai. Dan memang itu sudah berlangsung lama.

Meskipun lokasi masjid jauh dari pemukiman masyarakat, sama sekali tidak mempengaruhi masyarakat itu datang ke masjid tiap waktu.

Keberadaan air bersih, agaknya salah pemicu masyarakat betah ke masjid itu. Masjid selalu bersih dan rapi.

Tempat berwuduknya rancak dan indah, selalu tidak kekurangan soal air.

Imran Tuanku Sati Khalifah di masjid itu. Dia yang mengimami suluk, ketika waktu suluk tentunya.

"Biasanya, suluk di bulan Zulhijjah," kata Jamal Tuanku Sutan.

Tiap malam lebih dari seratusan masyarakat minta tahlil ke masjid itu. Tahlil setiap selesai Tarwih sepertinya juga wirid sejak dulunya.

Menjelang shalat, nama-nama orang yang akan ditahlilkan itu disebutkan oleh pengurus. 

Baik mereka yang sudah meninggal dunia, yang dimintakan oleh anak kemenakannya. Ada juga minta tahlil soal obat, kehilangan, untuk pelaris kedai dan lain sebagainya. 

Malam kedua itu, ada 140 lebih yang berkehendak tahlil, dan itu dibacakan satu persatu oleh pengurus. 

Tahlil atau kalimat tauhid yang dibaca bersama-sama setelah shalat, adalah ibadah. Ubah untuk yang membaca dan pahala pula bagi yang dihadiahkan. (ad)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies