![]() |
| Tim WAMY Sumatera Barat menyerahkan paket bantuan kepada masyarakat terdampak galodo di Kabupaten Solok. |
Oleh Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Bencana banjir bandang, galodo, dan longsor yang melanda kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, meninggalkan kerusakan, kerugian, dan duka bagi masyarakat. Rumah, fasilitas umum, sumber penghidupan, serta lingkungan warga terdampak material lumpur dan kayu yang dibawa derasnya arus banjir.
Dalam keadaan darurat seperti ini, masyarakat tidak hanya memerlukan ungkapan simpati. Mereka membutuhkan kehadiran nyata, bantuan yang cepat, serta dukungan yang dapat meringankan beban hidup. Di sinilah nilai sebuah lembaga kemanusiaan diuji: seberapa cepat bergerak, seberapa tepat bantuan diberikan, dan seberapa ikhlas pelayanan dilaksanakan.
Tim WAMY Sumatera Barat menyerahkan paket bantuan kepada masyarakat terdampak galodo di Kabupaten Solok. Kondisi berlumpur di sekitar permukiman memperlihatkan beratnya keadaan yang dihadapi warga.
Kehadiran Nyata di Tengah Korban
H. Faridansyah selaku Koordinator World Assembly of Muslim Youth atau WAMY Sumatera Barat bersama tim menunjukkan kepedulian tersebut dengan segera turun langsung ke lokasi bencana. Bantuan diserahkan kepada masyarakat terdampak dalam bentuk paket kebutuhan pokok dan perlengkapan rumah tangga yang dibutuhkan pada masa tanggap darurat.
Dokumentasi kegiatan memperlihatkan tim WAMY berdiri bersama masyarakat di tengah lingkungan yang masih dipenuhi lumpur. Keadaan itu menjadi bukti bahwa mereka hadir bukan setelah situasi kembali normal, melainkan ketika masyarakat masih menghadapi kesulitan dan membutuhkan uluran tangan.
Kehadiran langsung memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penyerahan bantuan. Ia merupakan bentuk empati, persaudaraan, dan penguatan psikologis bagi korban. Warga merasakan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah. Bantuan mungkin berbentuk sembako, pakaian, perlengkapan kebersihan, atau kebutuhan rumah tangga, tetapi di balik setiap bantuan terdapat pesan kemanusiaan: duka masyarakat Arosuka adalah duka kita bersama.
H. Faridansyah menyerahkan bantuan WAMY Indonesia secara langsung kepada salah seorang warga terdampak. Penyaluran dari dekat membantu memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Cepat Bergerak
Kecepatan merupakan prinsip penting dalam penanganan bencana. Pada masa tanggap darurat, keterlambatan bantuan dapat memperbesar penderitaan korban. Kebutuhan terhadap makanan, air bersih, pakaian, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, dan tempat tinggal sementara tidak dapat ditunda.
Langkah H. Faridansyah dan WAMY Sumatera Barat untuk segera mendatangi lokasi mencerminkan kesadaran bahwa kerja kemanusiaan harus mendahulukan tindakan. Kepedulian tidak cukup disampaikan dalam pernyataan, media sosial, rapat, ataupun seruan moral. Kepedulian harus hadir dalam bentuk langkah nyata.
Gerak cepat juga harus diikuti koordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, pemerintah nagari, tokoh masyarakat, pengurus masjid, relawan, dan lembaga kemanusiaan lainnya. Koordinasi diperlukan agar bantuan tidak bertumpuk pada satu tempat, sementara lokasi lain belum tersentuh.
Tepat Membantu
Bantuan kemanusiaan harus didasarkan pada kebutuhan nyata korban. Masyarakat yang rumahnya dipenuhi lumpur memerlukan perlengkapan kebersihan. Keluarga yang kehilangan bahan makanan membutuhkan paket pangan. Anak-anak, perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan orang sakit memerlukan pelayanan khusus.
Karena itu, ketepatan sasaran sama pentingnya dengan jumlah bantuan. Penyaluran secara langsung memberi kesempatan kepada WAMY untuk berdialog dengan masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, serta memperoleh gambaran mengenai bentuk bantuan pada tahap berikutnya.
Bantuan pada fase awal diarahkan kepada kebutuhan mendesak. Setelah keadaan mulai stabil, perhatian perlu dilanjutkan kepada pemulihan rumah, sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, ekonomi keluarga, serta kondisi psikologis masyarakat. Dengan demikian, kerja kemanusiaan tidak berhenti pada pembagian paket bantuan, tetapi bergerak dari tanggap darurat menuju rehabilitasi, rekonstruksi, pemberdayaan, dan penguatan ketahanan masyarakat.
Ikhlas Melayani
Nilai tertinggi dalam pelayanan kemanusiaan adalah keikhlasan. Bantuan tidak diberikan untuk memperoleh pujian, keuntungan pribadi, ataupun kepentingan kelompok. Ia diberikan sebagai pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada sesama manusia.
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah.” (Q.S. al-Insan [76]: 8–9)
Ayat tersebut menegaskan bahwa amal kemanusiaan harus dilandasi ketulusan. Bantuan yang disalurkan dengan ikhlas akan menjaga martabat penerima. Korban tidak boleh diperlakukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai saudara yang sedang menghadapi ujian dan berhak memperoleh dukungan.
Prinsip inilah yang tercermin dalam semangat WAMY Sumatera Barat: cepat bergerak ketika masyarakat membutuhkan, tepat membantu sesuai keadaan, dan ikhlas melayani tanpa membeda-bedakan latar belakang penerima.
WAMY dan Kiprah Kemanusiaan di Indonesia
World Assembly of Muslim Youth atau WAMY merupakan lembaga Islam internasional yang didirikan pada 1972. Selain bergerak dalam pembinaan generasi muda, pendidikan, dakwah, dan pembangunan sarana sosial-keagamaan, WAMY juga memberikan perhatian kepada pelayanan sosial dan bantuan kemanusiaan.
WAMY mulai menjalankan program di Indonesia pada April 2003. Direktori Organisasi Internasional Non-Pemerintah di Indonesia yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat bahwa program WAMY di Indonesia mencakup pembangunan bidang keagamaan dan bantuan pascabencana, antara lain di Maluku, Sumatera Barat, dan Jawa Barat. Bantuan pascabencana tersebut diberikan kepada masyarakat tanpa membedakan agama.
Keterlibatan WAMY dalam pelayanan bencana bukan kegiatan sesaat. Dalam berbagai peristiwa bencana di Tanah Air, WAMY mengambil bagian melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pemulihan fasilitas sosial dan keagamaan, serta kerja sama dengan lembaga lokal. Pada Konferensi Internasional WAMY di Jakarta, kegiatan sosial dan pemberian bantuan ketika terjadi bencana juga ditegaskan sebagai bagian dari kerja organisasi.
Ketika banjir melanda kawasan Pantura, bantuan paket sembako yang bersumber dari donatur dan disalurkan melalui WAMY Indonesia turut diberikan kepada masyarakat terdampak di Kabupaten Subang. Di Sumatera Barat, WAMY juga terlibat dalam bakti sosial, bantuan cepat, dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir bandang. Program tersebut dikenal sebagai Ighatsah Ajilah, yakni bantuan cepat bagi korban bencana.
Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa kepedulian WAMY terhadap korban bencana di Arosuka merupakan kelanjutan dari misi kemanusiaan yang telah dijalankan di berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran WAMY mempertemukan dukungan lintas wilayah dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
Dari Bantuan Menuju Ketangguhan
Bencana Arosuka memberikan pelajaran bahwa penanganan bencana membutuhkan kolaborasi. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya, tetapi kekuatan masyarakat, lembaga keagamaan, organisasi kemanusiaan, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan para perantau juga sangat menentukan.
WAMY Sumatera Barat dapat mengambil peran strategis tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga dalam program pemulihan berkelanjutan. Langkah yang dapat dikembangkan meliputi rehabilitasi rumah ibadah, penyediaan air bersih, bantuan perlengkapan sekolah, pelayanan kesehatan, pemulihan trauma anak dan keluarga, serta penguatan ekonomi masyarakat terdampak.
Masjid dan surau juga dapat dijadikan pusat pelayanan kebencanaan berbasis komunitas. Dari rumah ibadah dapat dibangun sistem pendataan warga rentan, gudang bantuan, pelatihan relawan, pendidikan lingkungan, dan gerakan menjaga keseimbangan alam. Kerja kemanusiaan yang baik bukan hanya membantu masyarakat bertahan setelah bencana, melainkan juga mempersiapkan mereka agar lebih tangguh menghadapi risiko pada masa depan.
Penutup
Gerak cepat H. Faridansyah dan WAMY Sumatera Barat di lokasi bencana Arosuka merupakan teladan kepedulian yang patut diapresiasi. Kehadiran tersebut membuktikan bahwa solidaritas harus diwujudkan dalam tindakan, bukan hanya disampaikan dalam kata-kata.
Masyarakat yang sedang berduka membutuhkan uluran tangan, perhatian, dan keyakinan bahwa masih banyak saudara yang peduli. Bantuan yang diberikan mungkin tidak dapat mengganti seluruh kehilangan, tetapi mampu menyalakan harapan dan memperkuat semangat untuk bangkit.
Semoga langkah WAMY Sumatera Barat menggerakkan lebih banyak lembaga dan masyarakat untuk ikut membantu pemulihan korban bencana Arosuka. Kerja kemanusiaan harus dilanjutkan melalui sinergi, transparansi, ketepatan sasaran, dan pelayanan yang menjaga martabat korban.
WAMY Sumatera Barat: cepat bergerak ketika umat membutuhkan, tepat membantu sesuai kebutuhan, dan ikhlas melayani demi kemanusiaan.
Sumber Rujukan
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Direktori Organisasi Internasional Non-Pemerintah di Indonesia. Keterangan mengenai kegiatan WAMY di Indonesia.
ANTARA News. “Menag Buka Konferensi Internasional WAMY ke-11.” 2010.
Andalaspos. “WAMY Turun Langsung Bantu Korban Bencana, Pemprov Sumbar Sampaikan Terima Kasih.” 2025.
Dokumentasi lapangan WAMY Sumatera Barat, penyaluran bantuan bencana galodo Kabupaten Solok, 2026.

