Type Here to Get Search Results !

IKAPI Sumatera Barat di Panggung Buku Internasional: Dari Kekayaan Lokal Menuju Percakapan Dunia

Penulis dengan Ketua dan Sekretaris IKAPI Sumatera Barat, Alizar Tanjung dan Armaidi Tanjung.

Oleh: Duski Samad

Jakarta, 30 September 2026

Kehadiran IKAPI Sumatera Barat dalam Indonesia International Book Fair, 30 September–4 Oktober 2026 di Jakarta, patut mendapat apresiasi. Ketua IKAPI Sumbar Alizar Tanjung, bersama Sekretaris Armaidi Tanjung, ikut membuka stan yang memperkenalkan karya penulis dan penerbit Sumatera Barat kepada pembaca yang lebih luas. Kehadiran ini membawa pesan bahwa daerah memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kekayaan kebudayaan yang layak masuk dalam percakapan nasional maupun internasional.

Di tengah beragam stan penerbit, tulisan “IKAPI SUMATERA BARAT” menjadi penanda kehadiran daerah yang memiliki tradisi intelektual kuat. Buku-buku yang tersusun di rak menghadirkan cerita, pemikiran, sejarah, serta kehidupan masyarakat. Di balik setiap judul ada penulis yang bekerja, penerbit yang mengambil risiko, dan harapan agar gagasan menemukan pembacanya.

Foto-foto pameran memperlihatkan keragaman itu. Ada Mizan, Balai Pustaka, Terra Pustaka, Fadli Zon Library, serta stan China, Türkiye, dan Abu Dhabi Forum for Peace dari Uni Emirat Arab. Suasana tersebut memperlihatkan bagaimana buku menjadi ruang perjumpaan antarbangsa. Bahasa dan latar kebudayaan boleh berbeda, tetapi keinginan untuk mengenal manusia, memahami sejarah, dan membagikan pengetahuan mempertemukan semuanya.

Dalam ruang seperti itulah IKAPI Sumatera Barat perlu mengambil peran yang semakin kuat.

Sumatera Barat memiliki banyak bahan untuk ditulis: adat Minangkabau, kehidupan nagari, tradisi surau, pendidikan Islam, pengalaman perempuan, dinamika perantauan, sastra, hingga perubahan sosial. Kekayaan tersebut memerlukan penelitian, penulisan yang tekun, penyuntingan yang baik, dan penerbitan yang profesional. Melalui proses itu, pengalaman lokal dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat yang tidak pernah menginjakkan kaki di Minangkabau.

Pada foto stan IKAPI Sumbar dan katalog Pustaka Artaz 2026 terlihat buku Ensiklopedi 100 Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin serta Living Heritage Syekh Burhanuddin, karya Duski Samad dan kawan-kawan. Kehadiran kedua buku ini memperkenalkan jaringan keulamaan, pewarisan ilmu, dan warisan sejarah yang masih hidup dalam masyarakat.

Buku tentang Syekh Burhanuddin membuka jalan bagi pembaca untuk mengenal hubungan guru dan murid, kehidupan surau, serta perjalanan nilai keagamaan melintasi generasi. Warisan tersebut memperoleh kesempatan untuk dipelajari, didiskusikan, dan diuji melalui karya tertulis. Tradisi yang sebelumnya banyak diwariskan melalui tuturan mendapat ruang dokumentasi yang lebih luas.

Di sinilah arti penting penerbit daerah. Mereka membantu pengetahuan yang dekat dengan kehidupan masyarakat memperoleh bentuk yang dapat disimpan dan disebarluaskan. Tanpa kerja dokumentasi, banyak pengalaman berharga mudah hilang bersama wafatnya orang yang menyimpan ingatan.

Langkah Alizar Tanjung dan Armaidi Tanjung membuka stan perlu dipahami sebagai kerja membangun jembatan. Penulis daerah membutuhkan akses kepada pembaca, distributor, perpustakaan, penerjemah, dan mitra penerbitan. Pameran internasional menyediakan kesempatan untuk mempertemukan kebutuhan tersebut. Kesempatan itu perlu diikuti dengan komunikasi dan kerja sama setelah pameran selesai.

Karena itu, keberhasilan keikutsertaan IKAPI Sumbar sebaiknya dilihat dari beberapa hasil yang nyata: bertambahnya pembaca, meluasnya distribusi, terbangunnya hubungan antarpenerbit, dan terbukanya peluang penerjemahan. Penjualan selama pameran tetap penting bagi keberlangsungan usaha penerbitan. Namun, hubungan yang terbangun dapat memberi manfaat lebih panjang bagi penulis dan penerbit daerah.

Untuk memperkuat langkah tersebut, penerbit Sumatera Barat perlu menyiapkan katalog yang rapi, ringkasan buku dalam bahasa Inggris, informasi penulis, dan penjelasan mengenai peluang kerja sama penerbitan. Mutu isi, penyuntingan, desain, serta pelayanan juga harus terus ditingkatkan. Kekayaan tema akan semakin menarik apabila disajikan dengan standar yang baik.

Perguruan tinggi, pemerintah daerah, perpustakaan, komunitas literasi, dan masyarakat perantauan dapat ikut mendukung. Kampus dapat mendorong penelitian menjadi buku yang mudah dibaca masyarakat. Perpustakaan dapat memperluas akses terhadap karya daerah. Pemerintah dapat membantu promosi dan penguatan ekosistem penerbitan. Perantau dapat menjadi penghubung buku-buku Sumatera Barat dengan pembaca di berbagai kota dan negara.

Dukungan tersebut perlu memberi ruang bagi keragaman gagasan dan menjaga mutu karya. Dengan demikian, penerbitan daerah tumbuh melalui kepercayaan pembaca dan kerja profesional yang berkelanjutan.

Kehadiran IKAPI Sumatera Barat di pameran buku internasional mengingatkan kita bahwa kebudayaan memerlukan usaha untuk terus diperkenalkan. Adat perlu ditulis, sejarah perlu diteliti, pengalaman perlu didokumentasikan, dan pemikiran perlu dipertemukan dengan pembaca baru.

Apresiasi kepada Alizar Tanjung, Armaidi Tanjung, serta para penulis dan penerbit yang membawa karya Sumatera Barat ke Jakarta. Dari stan ini, terbuka jalan agar pengetahuan yang lahir di nagari, surau, kampus, dan ruang kehidupan masyarakat menjangkau dunia.

Buku menjadi tali penghubung antarbangsa. Melalui buku, Sumatera Barat dapat memperkenalkan dirinya, sekaligus belajar dari pengalaman dunia. 300926

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.